Lima Jempol Untuk Dia (Part 1)

Standard

Ada yang bilang kalau saat meliput kabar pernikahan siri Paramitha Rusady, saya tidak seimbang. Bahkan secara langsung dia bicara kalau saya memakai perasaan dalam mengolah informasi menjadi berita. Dia tidak salah, tapi apa yang saya lihat adalah bukan sembarang kasus. Ini menyangkut kemanusiaan, etika, bahkan menyentuh nilai perasaan pembaca. Bagaimana dika anda melihat seorang wanita yang terserang stroke ingin diceraikan suaminya. Belum sampai di situ, latar belakang suaminya menceraikan sang istri dikarenakan alasan sudah tidak cinta. Singkatnya si istri sudah tidak bisa memberikan kebutuhan lahiriah. Awalnya saya memandang ini kasus biasa yang ada di dunia perceraian. Tapi apa yang saya lihat adalah perceraian yang tragis.

Saya tak kuasa melihat keadaan Mitha, seorang narasumber saya dalam kasus kabar pernikhan sirih Paramitha Rusady. Kabar itu sjak sebelum puasa saya ketahui dari teman Mitha (sebutlah Mawar). Pertama mendengar, saya tak percaya, karena penjelasan Mawar seperti kisah sinetron. Sampai terdengarnya isu itu, kondisi rumah tangga Paramitha Rusady dengan Nenad Bago terdengar baikbaik saja di media infotainment. Tidak ada pertengkaran, apalagi perceraian.

Namun apa yang diceritakan Mawar sama persis dari apa yang di ceritakan Mitha saat saya menghubunginya pertama kali. Saya intens berhubungan dengan Mitha, tujuannya jelas, untuk mendapatkan data dan pengakuan secara langsung.

Cara bicara dan suara di telepon menandakan orang yang sehat, padahal dari info yang saya dapat, Mitha sedang stroke. Sampai saat itu teori untuk berhubungan dengan Mitha biasa-biasa saja, layaknya saya berhubungan dengan orang normal. Makanya, tanpa pikir panjang, saya langsung mengajaknya bertemu di suatu tempat.

Rabu, 8 Oktober 2008 kita sepakati untuk bertemu. Dengan begini berita saya hasil pengakuan dirinya bisa online segera. Sampai pukul 12 siang belum ada kabardari Mitha, biasanya dia SMS. Akhirnya saya memutuskan untuk ke rumahnya. Sial, rupanya keberadaan Mitha sudah tercium oleh wartawan infotainment dan cetak lainnya, tak kecuali media online. saya pun langsung mengirimkan SMS ke Mitha, isinya memberi tahu keberadaan saya yang ada di depan rumahnya. Tidak ada pilihan lain, daya bergabung dengan mereka.

Kira-kira pukul 2 siang keluarga Mitha memilih untuk mengadakan konfrensi pers. Saya yang belum pernah melihat Mitha, langsung kaget melihat keadaan fisiknya yang setengah lumpuh. Badanya sangat kurus, dengan kondisi tangan dan kaki yang tidak bisa bebas bergerak, gemetaran. Isi penjelasan Mitha sama dengan penjelasannya via ponsel dengan saya. Begitu juga informasi dari Mawar, sama persis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s