Cinta Seperti Jamu

Standard

“Pahit, tapi menyehatkan”, itu yang saya dengar dari dialog salah satu sinetron di Trans TV. Rasanya ada benarnya juga, kalau sedang jatuh cinta rasanya tidak bisa di tebak. Terkadang ada suka dan ada duka. Bagaimana cara si pasangan menyikapinya.

Bicara soal cinta yang pahit, saya ingat cerita Herman, sahabat lama saya. Sekarang dia entah hijrah ke mana. Herman pernah cerita soal kekasihnya yang dingin sekali. Maklum saja mereka berdua sama-sama menemukan cinta pertama. Saat itu ingin Lebaran, Herman terikat perjanjian. Jika sang kekasih berada di rumah, Herman dilarang menghubunginya, kecuali lewat SMS saja. Sahabat saya yang suka mendaki gunung itu pun tak berkeberatan, karena dia merasa nyaman dengan kekasihnya.

Lebaran tiba, sudah beberapa hari Herman tidak bertemu ‘gadis pertamanya’. Herman mengirimkan pesan singkat, sekedar menanyakan keadaannya. Namun SMS itu tidak dibalas, Herman pun mulai gelisah. Ia terus mengirimkan pesan singkat, lebih dari 100 SMS tidak terbalas. Herman mulai kehabisan kesabaran, ia pun menelepon walaupun agak takut jika kekasihnya marah besar. Namun lagi-lagi tak dapat balasan, Herman mulai pasrah dan marah kepada kekasihnya yang baru 2 bulan ia pacari.

Entah mengapa, kata Herman tiba-tiba ia membenci si gadis. Rasanya kesalnya bukan kepalang, Herman terus menggerutu lewat pesan singkat. Malamnya, akhirnya saat Herman menghubungi pacarnya, teleponnya diangkat. Dengan sabar Herman menanyakan mengapa SMSnya tidak diangkat. “Aku lagi pergi, ponsel nggak dibawa,” alasan singkat si gadis. Herman pun lega. Meski sebentar, rasa rindunya bisa terobati.

Kelegaan Herman pun begitu cepat berakhir, SMSnya kembali tidak dibalas si gadis. Kegelisahan dan emosinya kembali memuncak. Kali ini Herman benar-benar mengeluarkan emosinya kepada si gadis dengan kata-kata halus. Namun tetap saja, emosi itu ditanggapi dengan datar oleh kekasihnya.

Herman berpikir, ada apa ini. Ada apa dengan cintanya. Namun herman sadar kalau emosinya karena Herman begitu saying dan mengkhawatirkan kekasihnya. Mungkin ini resiko mencintai seorang gadis yang sama seperti dirinya.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s