Cinta Kakek-Nenek

Standard

bintangku35.jpg

    Takdirku semakin dekat dengan seiring berjalannya waktu, namun mengapa dia hanya diam melihatku. Tak menyuruhku berhenti berjalan menuju jurang, mungkinkah dia benci? Sepertinya tak mungkin, katanya dia begitu mencintaiku. Apa yang telah ada di hati ku janjikan untuknya. Bahkan jiwa ini ku janjikan akan diserahkan dalam waktu dekat ini.

    Lama ku tungu, perlahan ia mendekat dan memberi tangan. Dia memegang tanganku, menggenggam jemariku yang hilang ditelan waktu. Ternyata benar, nenek masih mencintai kakek yang sudah renta. Hampir saja aku bunuh diri karena jenuh dengan asmara sepasang tua. Ternyata nenek tak pernah lupa cecangkir kopi untukku, meski agak rewel kalau aku terlalu banyak minum kopi.

    Pagi tiba, kira-kira pukul 6 pagi kami lari pagi di Parkir Timur. Setengah jam adalah waktu yang lama bagi kami. Umur 70 tahun adalah umur emas bagi manusia seperti kami. Banyak sahabat-sahabat kami yang telah tewas dimakan waktu, kami beruntung masih hidup. Setengah abad kami bersama sejak pertemuan di Suropati, Menteng. Itu sudah lama sekali, aku malas bercerita.

    Keringat bercucuran, kami harus minum air. “Sayang, pohon itu teduh. Kita duduk di sana, mau?,” ajak saya seraya memegang tangannya, bidadariku. Nenek pun tersenyum memenuhi ajakanku. Kita duduk di sebuah meja putih dan memesan segelas kopi, secangkir the manis, dan sepiring roti bakar coklat keju. “Ah. . . nikmat sekali”.

    Kami mulai berbincang soal kehidupan, entah mengapa sebulan ini nenek mengaku selalu ingat dengan kematian. Katanya dia mendapat pesan ingin dijemput malaikat maut. Airmata saya pun tak berhenti mengucur dan nenek memberikan sapu tangan putih yang aku berikan 30 tahun lalu di dermaga Jakarta. Di sapu tangan itu terukir sebuah kalimat, “I love you, monkey.”

    Monkey adalah panggilan kesayangan saya kepada istri karena dia suka binatang bertingkah laku seperti manusia itu. Katanya monyet itu lucu, “tapi jangan panggil saya monyet,” lanjutnya. Karena tak ingin dipanggil monyet, saya panggil dia ‘Monkey’. Nenek pun senang, karena itu panggilan sayangku.

    Aku sedih mendengar cerita nenek soal kematian itu, aku khawatir nenek ‘pulang’ terlebih dahulu dariku. Saat bercinta, kami berjanji akan sehidup semati. “Kalau nenek pergi, kakek ikut,” kata saya dengan memegang tangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s