Soal Skripsi Saya

Standard

eby2.jpgMeneliti soal berita rubrik detikhot memberikan kesan dan pelajaran berharga bagi saya. Karena bicara soal berita detikhot tidak akan terlepas dari bayang-bayang tentang wartawan infotainment dan wartawan hiburan. Keduanya dianggap berbeda oleh kalangan wartawan karena imej infotainment yang buruk di mata masyarakat luas. Sebutan wartawan infotainment biasanya untuk wartawan televisi, sedangkan wartawan hiburan untuk wartawan media cetak.

Mengapa begitu?, hal seperti ini pernah saya perbincangkan dengan beberapa wartawan ketika saya mencari juri untuk uji kategori. Saya sempat berkenalan dengan wartawan program acara Silet di RCTI. Menurutnya anggapan miring diakuinya juga terjadi pada Silet, dan itu berlaku pada wartawan infotainment keseluruhan ini pantas didapatkan oleh wartawan infotainment, lanjutnya. Teknik reportase seorang wartawan infotainment (WI) memang dirasa tidak memakai kaidah-kaidah kejurnalistikan. Terkadang hal-hal manusiawi tidak dipakai dalam mengumpulkan data dan membuat narasi dalam pemberitaan. Subjektifitas sangat melekat dalam pemberitaan wartawan infotainment, sehingga sering kali berita tersebut akrab disebut gossip. Kata itulah yang semakin menguatkan kalau wartawan infotainment bukan sebagai wartawan.

Lain hal dengan apa yang dikatakan seorang wartawan Gospot yang tak ingin disebutkan namanya. Dia mengatakan wartawan infotainment itu sama saja dengan wartawan lainnya. Sebutan wartawan infotainment hanya menjadi sebuah identitas jenis berita. Perbedaannya pun hanya teknis saja target narasumbernya adalah orang-orang terkenal yang berhubungan dengan dunia hiburan. Katanya, tidak selalu efek dari pemberitaan infotainment itu negatif. 

Infotainment juga mengurangi pengangguran, katanya. Lho kok bisa? Ini menarik saya untuk terus membahas soal fenomena popularitas di kalangan masyarakat. Popularitas seorang menjadi Tuhan baru di jagad dunia hiburan. Lihatlah AFI Indosiar, Star Dut, Indonesian Idol, dan ajang pencarian bakat lainnya. Fenomena infotainment menciptakan cita-cita baru dikalangan anak muda masa kini. Mereka yang terlahir pada era 80-an ke atas yang sekarang beranjak dewasa mempunyai cita-cita baru, yaitu sebagai Selebritis. Ini menunjukkan kalau infotainment akan terus bertahan dan menciptakan fenomena baru yaitu terbentuknya masyarakat anti susah karena kepalanya hanya berisi soal popularitas dan hura-hura semata.

Balik lagi ke pembahasan awal. Jurnalis media cetak enggan disebut sebagai bagian dari wartawan infotainment, mereka lebih senang jika disebut sebagai wartawan hiburan. Kembali ke imej negatif sebutan infotainment, mereka enggan disamakan dengan wartawan seperti wartawan Silet. Lia, salah seorang wartawan media cetak mengunggapkan alasannya. Rupanya ini terkait dengan penyajian berita dan teknik pencarian berita. Jika dilihat dalam pencarian berita, wartawan media cetak lebih mengikuti prosedur kaidah kejurnalistikan. Misalnya ketika si narasumber tidak mau diwawancara, mereka tidak akan terus memaksa menyodorkan mic ataupun tape recorder. Namun kalau wartawan infotainment kerap memaksa hingga kesal.

Dilihat dari penyajian beritanya, wartawan media cetak termasuk online lebih mengedepankan unsur objektivitas dari tulisannya, kata-katanya pun tidak dipaksakan ke hal-hal yang sifatnya kontroversi. Isi beritanya pun tidak terlalu bergosip. Apa pun anggapan tentang infotainment, balik lagi kepada siapa yang menganggapnya. Dan ini berarti berakar kepada background si wartawan dan doktrin apa yang diberikan kepadanya saat masih kuliah. Lihat saja Indonusa EsaUnggul, mahasiswanya secara tidak tertulis dilarang keras magang menjadi wartwan hiburan atau infotainment. Mengapa tak bisa? bukankah itu menjadi duri di kalangan mahasiswa yang ingin mencari pengalaman lebih? Sangat tidak adil.

One response »

  1. tapi kadang saya berfikir ada yang lebih menarik,,,, yaitu ttg program dari media semisal Sigi 30 menit , Intinya wartawan yg mencari berita dengan kamera tersembunyi , misal menelidiki ttg LAHAN GANJA di sebuah tempat yg dirahasiakan,,,,

    dari sana ada yg menarik (menurut saya) yaitu antara Kebebasan Pers (dalam melindungi Informan) dengan posisi wartawan yang selain wartawan mereka juga warga negara Indonesia yang TIDAK boleh melindungi pELAKU KEJAHATAN,,,

    gimana menurut anda,,,

    saL4m,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s