Datang dengan Kabar Buruk

Standard

Saya kembali ke kampus untuk menguasai ‘medan pertempuran’ Rabu mendatang. Entah mengapa perasaannya campur aduk, ada perasaan bangga, takut, bahkan sedih.

Rasa bangga datang karena saya ingin selesai pendidikan Jurnalistik. Takut karena sedikit lagi akan sidang skripsi, dan sedih karena akan meninggalkan sahabat-sahabat di kampus.

Baru saja datang saya sudah disodorkan dengan Suara Kami, bagaimana selajutnya? Salah satu reporternya mempertanyakan nasib media yang saya bentuk itu. Sebagai Pemimpin Redaksi saya tak ingin ambil pusing, karena jawaban ada di tangan mereka. Namun mereka saya yang masih banyak teori. Saya ingin mengajarkan hukum rimba sama mereka.

Tak lama cerita soal kampus dan organisasi menghampiri. Saya mendengarnya dari salah seorang mahasiswa di bangku lobby. Biasa mereka mengeluhkan soal mahalnya harga kuliah, semua serba uang. Saya rasa mereka angkatan lama yang sudah hampir lulus. Namun sepertinya mereka terhalang oleh biaya kelulusan seperti bayar sidang, wisuda dan admistrasi lainnya. Kasihan mereka.

Soal organisasi saya dengar ada UKM yang sulit mencairkan uang kegiatan akhir jabatan. Ah saya tahu untuk apa uang itu, paling untuk dibagi-bagikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s