Pejabat Kampus Berjiwa ‘Tempe’

Standard

Kemarin hari seorang sahabat bercerita tentang kekesalannya dengan BAA. Dia bercerita adanya keganjilan soal pemungutan biaya praktek di setiap mata kuliah. Kebetulan mata kuliah yang diceritakannya bernama ‘Motivasi Usaha’. Mata kuliah ini tidak dikenakan biaya SKS, tapi ada biaya lain yang total jumlahnya sekitar 300 ribu. Dari biaya itu terdapat uang praktek.

Dia mengeluh soal penarikan biaya praktek, padahal tidak ada praktek sama sekali. Sebelumnya dia dijanjikan akan mengunjungi perusahaan-perusahaan. “Namanya juga motivasi usaha, ya katanya sih mau ngunjungin perusahaan gitu,” katanya santai. Apa yang dijanjikan rupanya tidak terlaksana, “Kalau nggak ada praktek, ke mana uang itu,” lanjutnya.

Singkat cerita sahabatku ini mempertanyakan soal uang prakteknya. Katanya, bayangkan saja jika 100 uang praktek dikali ribuan mahasiswa, pastinya bisa membangun 1 masjid lagi.

Hal ini membuat saya sebagai mahasiswa ingin membuka wacana mahasiswa lain. Selain itu saya akan membuka pemikiran sahabat saya yang ada di atas sana, apakah mereka mendengar?

Jawabannya, sepertinya tidak, para pejabat duduk enak, mungkin hanya “ya. . .ya. . .ya. . .” Hanya rapat dan mencari wacana dengan suguhan kacang Garuda dan air mineral. Saya rasa mereka yang menjadi wakil saya telah kehilangan jati diri. Ehm. . . ini tragis sekali, lebih tragis dari kenaikan BBM.

Saya kira sahabat-sahabat saya telah menelan racun Kapitalis. Mereka adalah kapitalis muda, mukan calon intelektual muda. Mereka telah menghianati cita-citanya sendiri.

Issu Korupsi IKM

Setiap tahun issu pejabat yang memperkaya diri terus terdengar. Namun sayangnnya tak ada yang berani mempertanyakannya. Mereka takut oleh generasi tua yang mengacau. Pernah terdengar soal pejabat legislatif yang ‘bagi-bagi Hp’ di akhir masa jabatan. Tepatnya dana 30 juta hilang tak berjejak. Tapi apa, saat sidang hal itu ditutup-tutupi, ditambah suasana malas.

Saya sangat prihatin dengan itu. Apa yang bisa dibanggakan di kampus saya? Pendidikan? Ah standar saja. Paling tidak saya bangga dengan sahabat-sahabat saya yang berani berkata tidak pada ketidakadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s