Surga Lebih Pantas dihuni Maling daripada Polisi

Standard

2004 lalu saya ditilang polisi di kawasan Tangerang yang biasa disebut ‘Kodim’. Karena saya tidak membawa STNK dan tidak punya SIM, motor saya ditahan dan harus diambil esok. Dalam surat tilang, saya dikenakan denda Rp.375.000. Ketika itu saya tenang dan sama sekali tidak ada peraan takut, karena saya sadar kalau saya bersalah dan harus ada tindakannya. Saya rasa motor saya akan aman karena langsung dibawa ke kantor polisi.

Pagi-pagi saya pergi untuk membayar denda tilang. Karena ini pengalaman pertama saya berurusan dengan polisi, disana saya mengandalkan ‘bertanya’. Sesampainya saya di Polres Metropolitan Tangerang, di pos jaga saya bertanya kepada seorang petugas soal tempat pembayaran denda tilang. Polisi muda itu menyuruh saya untuk menunggu sebentar. Dia pergi kearah keluar gerbang Polres, memanggil seorang polisi. Tak lama dia datang dengan membawa seorang polisi – saya menebak polisi itu atasannya, karena terlihat lebih gagah dengan ‘pangkat’ di mana-mana.

“Mari ikut saya,” ajak polisi berinisial “S”. Saya diajak keluar gerbang, perasaan keganjilan pun timbul. Sambil jalan dia bertanya tempat penilangan, saya pun menjawab apa adanya. Berhenti berjalan, rupanya dia mengajak ke tempat tidak jau dari Polres yaitu di gang kecil sebelah kanan Polres.

Tidak hanya ada saya dan polisi “S”, di sana ada juga polisi-polisi yang sedang makan atau sekedar mengobrol. Ada juga saya lihat seorang sipil seperti saya bersama seorang polisi lainnya yang sedang berbincang – entah apa yang diperbincangkan.

“Jadi ini kamu harus membayar denda 375 ribu karena gak membawa STNK dan SIM. Kenapa kamu gak bawa STNK?,” tanya polisi itu. Saya jawab kalau saya lupa bawa STNK dan tidak punya SIM. Tak lama polisi “S” meninggalkan saya dengan membawa surat tilang dari tangan saya. Sekitar 5 menit kemudian dia datang bersama ibu-ibu gemuk berkaos plus celana Jeans membawa tas kecil ala ibu-ibu yang pergi ke pasar.

“Kamu saya bantu supaya prosesnya cepet dan gak berbelit. Kamu bayar uang dendanya ke saya, nanti bias saya yang kasih,” tutur ibu itu sambil berjalan. Tanpa banyak berkata saya berikan uang sebesar yang diminta kepadanya dalam parjalanan itu juga.

Rupanya saya diajak menghadap ke sebuah ruangan di sebelah pengurusan tilang. Di ruangan itu berisi 4 meja polisi lengkap dengan polisi yang menempati keempat meja itu. Sekitar 10 menit saya berada diruangan itu, namun tidak melakukan apa-apa. Si ibu itu dan polisi berinisial “M” terlihat sibuk bercakap. Sementar saya sibuk melihat menyusuri keadaan ruangan. Di pojok kiri ruangan terpampang tariff denda tilang mulai dari denda tidak punya SIM dampai denda karena tidak memakai helm.

“Ayo mas, ikut saya,” ajak polisi “M” denga penuh senyum. Saya pun tersenyum sumringah, karena merasa ini kan cepat selesai. Polisi “M” mengajak saya menyusuri penampung motor penilangan, namun tak terlihar motor Honda Astrea hitam bernopol B 5489 CC. Selesai mencari, saya langsung diajak menuju mobil Kijang Hitam berkisar tahun 80an akhir.

Rasa curiga kuat menyelimuti fikiran saya, “ada apa ini?”. Dalam mobil saya ditanya dengan pertanyaan sama, tempat penilangan, dan saya pun memjawab dengan jawaban yang sama. Terlihat muka polisi “M” penuh dengan kelicikan. “Waduh saya sampai nganterin kamu kayak gini nih. Tau gak mobil ini juga perlu bensin nih, mana saya belum ngisi lagi,” ujarnya dengan tenang sambil menyetir. “Oh,” balas saya sambil tersenyum ‘jijik’.

Saya mulai tahu maksud semua ini, dia meminta uang imbalan. Saya pun bertambah diam dan pura-pura bodoh. Tak lama polisi “M” bertanya umur, saya jawab kalau umur saya masih 17 tahun dan masih SMA. Padalah saat itu saya sudah mahasiswa. Tak lama polisi “M” menelepon seseorang, saya mendengar jelas percakapannya.

“Hey, minta berapa kamu dari anak ini?. . . Makanya lain kali kalau bantu itu jangan minta banyak-banyak. Ini saya ajak bicara dia, Cuma diam bodoh gak tau. . . Iya lain kali kalau bantu ambil aja setengah. Ya udah lah.”

Hati saya tersenyum lebar, dan berkata dalam hati, “kasian deh lu gak dapet bagian”. Lama nyusuri jalan di Tangarang, akhirnya saya tiba di rumah makan Padang di By Pass Cipondoh depan PLN sector Cikokol. Disana rupanya ada 3 orang polisi lain yang sedang makan. Kata polisi “M” motor saya disimpan di sana, tapi setelah ditana kepada penjual nasi Padang di rumah makan itu, motor saya tidak disimpan di sana.

Polisi “M” pun berekspresi datar. Setelah salah seorang diantara 3 polisi itu menyarankan untuk mengecek di pos polisi Pintu Air. Saya, polisi “M”, dan ketiga polisi itu berangkat menuju pos yang dimaksud. Mereka bertiga memakai motor Honda Wings berplat polisi, sedangkan saya naik motor Yamaha F1 Hitan yang saya rasa juga sebagai motor tilangan.

Polisi “M” sudah terlebih dahulu sampai, dan tak lama saya sampai bersama ketiga polisi itu. Baru saya turun dari motor, polisi “M” langsung memanggil saya untuk ikut bersamanya. Kami berdua pun jalan kembali dengan mobil yang sama. Saya tidak banyak komentar tentang hal yang saya lewati sampai saat ini. Kami pun sampai di sebuah sekolah sekretaris dikawasan Cimone. Saya bingung, kenapa polisi “M” memngajak saya ke tempat ini. Tanpa berfikir negative, saya mengira kami akan menjalani solat jumat terlebih dahulu.

Saya dengar percakapan polisi “M” dengan seorang penjaga sekolah tersebut di dalam pos penjaga. “Ada titipan kunci gak?,’ tanya polisi “M”. Penjaga paruh baya itu pun langsung mencarinya di laci meja. Ternyata kunci motor saya ada.

Polisi “M” langsung memberikannya kepada saya dengan berkata tenang, “administrasi kamu sudah selesai. Ini kunci motor kamu. Karena kemarin sudah terlampau malam, motor kamu dititipkan dulu disini. Ya sudah,” ujar polisi “M” dengan nada menggurui.

Saya tidak banyak membalas perkataan polisi “M”, saya pun tidak berterima kasih untuk ini, karena saya beranggapan kata terima kasih sudah terwakili dengan uang 375 ribu yang saya beri kepada calo Polres Tangerang. Saya pun berjalan dengan perasaan senang, bukan karena sudah mendapatkan motor saya kembali. Namun karena saya mendapat pengalaman dan pengetahuan berharga soal potret kelakuan seorang polisi.

Modus Oprasinya jelas, sama seperti maling. Bedanya polisi berseragam dan ‘mencolong’ motor sipil di depan mata. Namun bagi saya seorang maling lebih terhormat daripada seorang Polisi.

Keduanya ‘mencolong’ sesuatu demi perut. Namun saya rasa apa yang dilakukan polisi lebih HARAM dibandingkan apa yang dilakukan seorang maling. Makanan yang dikonsumsi sorang maling pun lebih BERKAH daripada apa yang dimakan polisi.

Jelas adanya, Surga lebih pantas dihuni oleh maling, daripada polisi.

4 responses »

  1. Pingback: 47fc87f552

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s