Category Archives: Puisi

di Persimpangan Lautan

di Persimpangan Lautan

berlayat terus ke arah selatan menjemput sangkala yang terbenam entah di mana
mencari titik pelangi yang entah aku akan bertanya apa, mungkinlah malam itu tiba?
di persipangan lautan aku bertanya, di mana tempat terbaik itu?

Seorang anak bermain di batu tua itu, di pantai 20 kilometer dari tengah kota
mereka bersuara manja, memanggil aku ingin pulang mama

iya, aku ingin pulang mama

Siapa Pemilik ‘Namaku’?

Siapa Pemilik ‘Namaku’?

Malam, kopi ini…

Secangkir menghangatakan cerita di antara duka mendalam tentang harapan. Mengintai sejuta keindahan dan pesona krusial persinggungan keyakinan. Aku di antara perintah yang memberatkan, aku percaya atau tidak?

Perjuangan pertikaian cerita ku terus sungkurkan berita tentang namanya, siapa dia? Seperti cerita yang sudah-sudah, aku adalah aku, tak lain adalah dia yang mengintai setiap relung kebahagiaan.

Pertikaian antara dogma dan perkusi reagge… berimanlah aku yang telah menyadarkan perselisihan…

Beberapa pertanyaan, soal perjamuan jiwa… kita pernah duduk bersama antara kezaliman cerita… kita pernah bercerita tentang bintang-bintang di taman, entah di taman mana? Dan ingatkah kita pernah ‘bercinta’ denga mesra bercerita soal masa depan… masa yang sebenarnya tidak pernah terjawab.

Ada perselisihan, perbedaan keyakinan atas jiwa yang terusik oleh setiap cerita…

Ada kehangatan, di balik penghianatan atas cerita cinta kita…

Ada pula kebohongan, di pemikiran picik kaum muda mudi…

 

Alam mengajarkan setiap benih kejujuran menumbuhkan kebahagiaan abadi,

khayalan atas pengatahuan berbuah pelangi…

 

Aku ada di sisimu sayang, selalu bersenda gurau tentang cerita kucing-kucing malang kita yang kelaparan, tidakkah kau rasakan itu?

Bayang kan saat kita duduk di antara pepohonan taman stroberi, indah bukan?

 

Bukan itu yang ku tengah bicarakan, aku hanya berkhayal suatu saat nanti namaku kau sebut, aku sayang kamu…

 

MejaKerjaku, Utan Kayu 68H

Yang terkasih,

Yang ketiga…

Yang ketiga…

Yang Terkasih di Selatan,

Perjalanan tak begitu panjang menyelusuri ribuan kerikil di sepanjang jalan menuju peraduan di selatan. Di sana akhirnya kita pun melepas lelah, di sepanjang jalan yang gelap.

Kemudian saat itu turun hujan, tersenyum lah kau… Tersenyum seraya menatapku, aku baru tahu kau begitu cinta dengan hujan…

Entah apa, ini yang ketiga…