Category Archives: Jalan-jalan

Stasiun Pesing Jakarta Barat Menolak Menerima Pembelian Tiket KRL dengan Uang Pecahan Rp 100

Stasiun Pesing Jakarta Barat Menolak Menerima Pembelian Tiket KRL dengan Uang Pecahan Rp 100

Petugas yang ada di dalam loket itu bernama Fitri Pangestu. Fitri petugas penjaga loket Stasiun Pesing. Fitri menolak menerima uang pembelian tiket KRL dengan menggunakan uang receh pecahan Rp 100. Alasannya uang pecahan Rp 100 tidak diterima oleh penumpang KRL yang naik dari stasiun Pesing.

Dia mengaku sering ‘nombok’ dengan menyimpan uang kembalian yang kebanyakan recehan Rp 100 itu. Ia menukarkan uang Rp 100 itu dengan pecahan lainnya. Jika penumpang kereta tidak bisa membeli tiket dengan penacahan selain Rp 100, si calon penumpang katanya tidak bisa naik. Karena dia akan rugi menombok.

Apakah uang Rp 100 sudah tidak berlaku? Ya Tuhan…..

SOTOJI, Sensasi dan Gaya Baru Menikmati Semangkuk Soto

SOTOJI, Sensasi dan Gaya Baru Menikmati Semangkuk Soto

SOTOJI Tutupi Muka Saya...

Bagaimana jika makanan khas Indonesia, soto yang biasa Anda buat kapan saja dan di mana saja? Dan apa jadinya jika soto itu bukan lah soto ayam atau sapi, tapi soto jamur? Bisa bayangkan? Hahaha… tak perlu dibayangkan, karena barangnya sudah ada. Anda bisa kok buat soto jamur yang nikmat. Coba saja SOTOJI.

SOTOJI itu kependekan dari Soto Jamur Instan. SOTOJI hadir menawarkan sensasi merasakan soto yang tidak biasa. Kini Soto Jamur, pernah ada yang jual? Sepertinya jarang.

Cara memasak SOTOJI sangat mudah, tidak sesulit membuat bihun goreng, bihun rebus, atau soto yang perlu merebus kaldu ayam. Anda cukup mulai dengan menyobek kemasan SOTOJI yang berwarna hijau dengan tulisan besar SOTOJI: Soto Jamur Instan di sisi kanan untuk memulai menikmati SOTOJI.

Rebus bihun dan jamur yang berada dalam kemasan selama 2 menit-an dalam air yang sudah mendidih di atas kompor. Saya menyarankan jangan semua jamur direbus. Sisakan sebagian jamur sebagai taburan.

Sotoji Siap Saji

Menunggu rebusan selesai, buka saset bumbu-bumbu. Beri air panas untuk kuah, dan aduk agar tercampur. Setelah bihun matang dan lunak, tiriskan. Buang air hasil rebusan. Bihun yang sudah ditiriskan masukkan ke dalam mangkuk yang sudah berisi kuah. Tahap akhir taburkan jamur yang tidak direbus. SOTOJI pun siap saji. Agar lebih lengkap, tambahkan juga telur bulat rebus.

Sruuuppppp…. benar saja, rasanya begitu nikmat seperti menikmati soto buatan restoran. Agar lebih nikmat jangan ragu tambahkan kecap dan cabai iris. Begitu juga jeruk limau agar lebih segar. Tekstur bihun yang pas, tidak terlalu kenyal atau keras, memudahkan masuk dalam pencernaan. Sementara itu takaran bumbu sotonya juga tidak membuat rasa terlalu asin.

Begitu menelan bihun SOTOJI, hampir dipastikan bihun tidak nyangkut di tenggorokan. syuuurrrrrr…. bihun langsung masuk ke lambung. Selain itu tidak juga nyangkut di gigi – bagi yang bergigi berlubang. Campuran bumbu SOTOJI tidak membuat mulut menjadi terasa kering. Sehingga Anda tidak perlu meminum air terlalu banyak selama makan SOTOJI. Selain itu porsinya juga pas, 70 gram. Itu cukup untuk makan pagi Anda dan mulailah beraktivitas dengan mengantungi tenaga full.

SOTOJI lebih nikmat di makan di luar rumah saat hujan. Hangatnya SOTOJI membuat tenggorokan dan hidung lebih luang bernafas karena efek jaruk limau dalam bumbu SOTOJI. SOTOJI juga nikmat di makan di dalam ruang kantor yang biasanya ber-AC. Bagi karyawan yang biasa menyantap mie instan, beralihlah ke SOTOJI. SOTOJI banyak mengandung protein dan karbohidrat, namun rendah lemak. SOTOJI juga tidak menyebabkan kantuk setelah menyantapnya.

SOTOJI Praktis Dibawa ke Mana Saja

Untuk kantor Anda yang tidak terdapat kompor untuk memasak SOTOJI, tak perlu khawatir. Hasil eksperimen saya, bihun yang terdapat dalam kemasan SOTOJI mudah lunak dengan diseduh air panas mendidih dari dispenser. Anda cukup menyiapkan tempat makan plastik yang mempunyai tutup.

SOTOJI juga mudah dibawa ke mana-mana. Kemasannya yang tak begitu tebal dan jenis bihun SOTOJI yang tak mudah hancur bisa diletakkan di dalam tas.Tidak perlu pengaman agar tak hancur, bihun SOTOJI tak mudah hancur. Jadi menghemat ruang penyimpanan tas Anda.

Masukkan bihun SOTOJI ke tempat makan itu, tuangkan air panas hingga menenggelamkan bihun. Tutup rapat dan tunggu 3 menit. Setelah bihun melunak taburkan bumbu dan minyak SOTOJI. Dan taburkan juga jamur instans. Rasanya jamur akan lebih terasa, tidak asin, melainkan memberikan sensasi berbeda memakan soto.

Selamat Menikmati SOTOJI

Untuk yang tengah berdiet atau takut gemuk, memakan bihun lebih bagus daripada mie instan. Itu karena mie instan rendah lemak, dan kaya serat. Sehingga proses pencernaannya menjadi cepat. Bagi yang suka bergadang, jangan takut menikmati SOTOJI saat tengah malam. Karena tidak akan membuat gemuk.

Menikmati SOTOJI tidak perlu dipadukan dengan nasi, sebab memakan SOTOJI terbilang mengenyangkan. Yang Anda harus tambah, adalah sediakan minuman seperti teh gula jawa.. Itu akan membuat sensasi menikmati SOTOJI lebih menyenangkan.

Jadi selamat menikmati SOTO JAMUR INSTAN…. Pesan sekarang juga!

Bukti Rakyat Masih Miskin dan Terbelakang

Bukti Rakyat Masih Miskin dan Terbelakang

Foto ini baru saya dapat di Stasiun Batu Ceper di Kota Tangerang. Stasiun itu termasuk sudah berumur tua. Dulu pun banyak corat-coret, setelah direnovasi masih ada yang mencorat-coret. Seiring perkembangan zaman, saya baru tersadar dengan pembuktian nyata. Bahwa dari dulu hingga sekarang rakyat yang dekat di pusat Ibukota Negara Indonesia pun masih terbelakang dan terhimpit kehidupan sulit.

Ragu? Coba tanya, mengapa mereka mencorat coret fasilita umum? Apa tak diajarkan oleh guru agar merawat fasilitas umum?

Musim Hujan Tiba, Waktu Tangerang Lebih Cepat 2 Jam

Musim Hujan Tiba, Waktu Tangerang Lebih Cepat 2 Jam

Musim saat ini sudah tak ada kepastian, kapan pun bisa datang hujan. Begitu juga sebaliknya, bisa datang kemarau. Ada dampak yang paling terasa karena perubahan iklim yang tak menentu di Tangerang. Yaitu lebih cepatnya waktu, jam di Tangerang lebih cepat 2 jam.

Tentu itu bukan arti sebenarnya. Maksud saya, sekarang warga Tangerang setiap sore sudah berada di lapangan Ahmad Yani pukul 2 siang. Saat itu matahari lagi terik-teriknya. Salah satu orang yang saya tanyakan memang sengaja olahraga agak siang karena biasanya Tangerang akan diguyur hujan pukul 4 sore. Jadi mending olahraga-nya lebih awal agar keringet keluar.

Temukan Warteg Pas di Lidah dan Kantong di Utan Kayu

Temukan Warteg Pas di Lidah dan Kantong di Utan Kayu

Hampir 9 bulan saya menjadi Jurnalis KBR68H yang kantornya ada di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Jarak rumah yang sedikit jauh dan kegemaran saya untuk beraktifitas di luar rumah, saya jadi sering menginap di kantor.

Kebiasaan itu tidak masalah untuk saya, yang penting di sekitar kantor tersedia warung makan.

Awal jadi warga Utan Kayu, saya selalu makan siang dengan makanan yang ada di pinggir jalan. Seperti ketoprak, mie ayam, nasi uduk, atau warteg pas di persimpangan.

Bicara soal warteg itu, ehm subjektif saya rasanya kurang enak. Terlebih perbandingan harga dan rasa tak sebanding. Saya pun mulai memburu tempat makan yang pas di kantong dan di lidah. Seorang teman memberitahu jika di ujung jalan Utan Kayu ada warung makan Tegal (warteg) yang enak, murah, dan bersih.

Saya pun di ajak makan di warung itu. Huft, jalannya agak jauh. Kurang lebih 500 meter menuju ujung jalan Utan Kayu. Tepatnya ke arah halte TransJakarta Utan Kayu Rawamangun.

Tidak ada plang nama di warung itu. Cat warung yang berwarna cokelat gelap membuat kesan sejuk di tengah panasnya matahari Jakarta Timur. Masuk ke warung itu, terasa leluasa. Ruang yang tak sempit membuat ruangan pun terasa sejuk. Angin masuk dari teralis yang sedikit tertutup kain.
Mata beralih ke menu. Ada lebih dari 20 macam menu di lemari pangan kaca mening itu. Ada ikan goreng, rendang, usus kecap, udang sate tepung, sayur toge, oncom tumis, wahhh masih banyak lagi yang tidak saya tahu namanya.

Masakan yang disajikan, ketika sudah dirasakan, nikmat sekali. Hangat dan rasa pas, tidak ada ciri makanan dibuat asal. Belum lagi nasi yang disajikan pulen dan putih, serta hangat.

Ada dua hal yang menurut saya menjadi unggulan. Yaitu ada gorengan tempe, tahu, dan bakwan yang garing dan selalu hangat. Karena beberapa kali saya makan di sana, gorengan yang diletakkan di nampan plastik berlapis koran itu selalu tersaji hangat. Baru diangkat dari penggorengan.

Satu lagi yang menjadi unggulan, tersedianya sambel kecap dan sambel terasi. Ehm….. Perpaduan yang pas jika menu saya telor, sayur oncom, orek teri kacang, kuah opor dan dua buah gorengan. Untuk menu itu saya hanya membayar Rp 8500. Itu sudah termasuk teh manis hangat…..

Ehmm…. Selamat makan……

Saya harus berjalan kurang lebih 500 meter menuju warteg

Saya harus berjalan kurang lebih 500 meter menuju warteg

Tidak ada plang nama warteg

Tidak ada plang nama warteg

Tempatnya sangat bersih dan nyaman

Tempatnya sangat bersih dan nyaman

Menu beraneka ragam

Menu beraneka ragam

Warteg itu sediakan lalapan

Warteg itu sediakan lalapan

Ini menu paling menggiurkan, sambal kecap

Ini menu paling menggiurkan, sambal kecap

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Bersiap naik Commuter Line...

Di dalam Commuter Line

Sabtu (21/1/2012) yang cerah, saya sudah siap dengan rencana pergi ke Sea World dengan seorang sahabat, Sandika. Tapi tidak naik motor, melainkan naik Kereta Listrik Commuter Line. Kebiasaan berlibur akhir pekan dengan menggunakan transportasi umum sepertinya harus mulai digalakan. Karena jumlah kendaraan dan polusi di kota besar seperti Jakarta dan kota penyanggahnya sudah di ambang batas. Itu berdampak pada kerusakan lingkungan, terutama kerusakan udara. Kami mulai perjalanan dari Stasiun Batu Ceper, di Tangerang. Suasana di dalam sangat lengang, bahkan nyaman.  Tentunya ini saya maklumi karena hari libur, tidak banyak orang bekerja. Suasana juga cukup aman untuk berselancar ke dunia mayadengan Black Berry. Oh… iya beda dengan KRL Ekonomi, Commuter line itu terdapat petugas yang berjaga dan menarik tiket, mereka berseragam.

Tiket Commuter Line

Dari Stasiun Batu Ceper, kami menuju Stasiun Duri, Jakarta Barat. Tarif yang harus kami bayar sebesar RP 5.500. Cukup mudah dengan suasana sepi dan leluasa di hari libur. Sesampainya di Stasiun Duri, kami harus transit, mengganti kereta. Karena sistem perkereta-apian saat ini sudah diubah. Mengikuti seperti MRT di Singapura, atau juga Bangkok. Sayangnya ternyata PT. KAI belum siap mengadopsi sistem transportasi massal kereta.  Banyak hal yang menjadi kendala, salah satunya yang banyak diperhatikan adalah fasilitas yang diberikan opererator. Yang paling banyak dikeluhkan di antaranya ketidaktepatan waktu tempuh kereta listrik.

Menunggu KRL menuju Kampung Bandan

Seperti yang kami alami, kami harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Duri menunggu KRL menuju Stasiun Kampung Bandan. Stasiun itu ada di belakang WTC Mangga Dua, Kota Tua, Jakarta Barat. Sandika begitu gelisah menunggu lamanya KRL. Dia terus mengeluh, wajahnya juga terlihat kesal. Ini pengalaman pertamanya berliburan dengan menggunakan transportasi umum. Tapi tentunya harus dibiasakan. Meski begitu, dengan tentunya dia masih terlihat antusias. Akhirnya pukul 11.00 WIB KRL tiba. Kami naik dengan semangat. Selama perjalanan kami bertanya-tanya, ke mana lagi dari Stasiun Kampung Bandan untuk ke Ancol. Menurut informasi peta jalan, ada kereta menuju Ancol. Saya lihat di atas pintu masuk dan keluar Commuter Line. Ehm… tak lama perjalanan kami ke Stasiun Kampung Bandan, hanya 10 menit melewati Stasiun Angke. Kami pun mencari jalur untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ancol, tapi ups… tenyata tidak ada KRL menuju Stasiun Ancol. Lho? Padahal petunjuk informasi di gambar rute KRL jelas terlihat ada lajur khusus ke Ancol. Rupanya informasi itu palsu, itu kami dapatkan setelah bertanya kepada petugas KRL. Ya sudahlah, berarti memang benar petunjuk transportasi umum di Jakarta masih menyesatkan.

Jembatan penyebrangan menuju Ancol dari Stasiun Kampung Bandan

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Ancol dengan berjalan kaki. Lewat jalan ‘tikus’ via parkiran motor WTC, tembus ke jalan raya. Kami pun menyebrang lewat jembatan yang berada di atas sungai ‘hitam’, dan di sebelah jalur rel menuju Stasiun Tanjung Priuk. Sangat panas sekali waktu itu. Saya pun sampai berkeringat. Dari Stasiun Kampung Bandan ke Ancol kira-kira 500 meter. Memang terbilang tidak terlalu jauh. Namun perjalanan terasa jauh karena debu kendaraan yang mengepul. Maklum trotoar jalan tidak terlalu bagus. Sempit sekali, sehingga kami langsung bersenggolan dengan mobil-mobil yang ‘menggas’. Belum lagi untuk menyebrang menuju pintu Ancol tidak ada zebra cross, wah makin bahaya saja kami. Nyawa kami terancam, ah tidak berlebihan itu. Karena kendaraan yang harus kami berhentikan ketika menyebrang adalah truk pembawa peti kemas.

Tiket masuk Ancol

Ah akhirnya sampai juga di Ancol. Kami masuk, dengan membayar tarif Rp 30.000 untuk 2 orang. Harga yang sebanding tentunya untuk menikmati alam pantai di Ancol. Setelah itu kami pun masuk Ancol, pegel sekali kaki ini. Sampai-sampai Sandika pun kelelahan. Memang terasa berat bagi kami yang beru memulai membiasakan berlibur dengan mengunakan angkutan umum.

Di dalam mobil jemputan...

Tapi saya yakin jika sudah terbiasa maka tidak akan terasa lelah, bahkan mengasyikkan. Kami sempat kebingungan setelah masuk kawasan Ancol, ke mana arah untuk ke Sea World? Tenyata ada shuttle bus transit Ancol. Bus itu jenis bus mini berkapasitas 25 penumpang. Namun anehnya tidak ada logo Ancol di bus itu, ada-nya logo Big Bird. Memang Bus itu disewa Ancol dari Big Bird. Nyaman sekali, saat menuju Sea World, hanya kami yang naik. Dan ternyata itu karena tidak banyak yang tahu jika sekarang Ancol menyediakan layanan bus transit bagi pengunjungnya yang tidak membawa kendaraan. Itu sangat membantu tentunya.

Makan siang...

Kami sampai di Sea World, perut kami keroncongan. Karena 1,5 jam perjalanan kami tidak boleh makan dan minum di dalam Commuter Line. Makanan siap saji yang kami pilih di FoodCourt. Dan pilihan jatuh ke makanan siap saji entah dari mana. Hahaha… mengapa makanan siap saji, memang karena kami mencari makanan yang tidak terlalu membuat kenyang. Hanya untuk mengganjal saja.

Loket pentipan barang

Kami memilih paket Family, harganya pun tidak terlalu mahal Rp 38.000 untuk dua orang. Karena kami membawa minum, jadi tidak pelu memesan minum lagi, kami juga membawa makanan kecil. Makanan kecil itu nantinya saya titipkan ke loker. Karena makanan kecil dan minuman tidak bisa dibawa ke area Sea World. Alasannya memang sangat logis, agar di dalam area pameran tidak dikotori. Di dalam juga disediakan makanan kecil dan minuman ringan untuk melepas dahaga. Jadi tidak perlu takut kehauasan. Kami pun masuk. Sebelum masuk, tangan kami harus dicap terlebih dahulu. Tidak lupa juga tas kami diperiksa, memastikan kami tidak membawa makanan dan minuman. Hehehe, tapi kami membandel sedikit. Kami membawa Oreo satu bungkus. Tapi saya jamin tidak akan membuang sampah sembarangan di dalam, itu untuk antisipasi kalau perut keroncongan.

Cap Sea World

Sea World, rasanya asing ketika kami masuk. Saya terakhir kali ke sana ketika masih kecil, duduk di bangku SD. Wah ternyata Sea World tidak sebesar yang saya kira yah. Mungkin saat itu saya membayangkan besar karena masih kecil. Hehehe… Oke sekarang lihat deh foto-foto kami bergaya di dalam.

Ada apaan tuh di belakang?

Lagi tunjuk apaan tuh Sandika?

Di dalam akuarium raksasa

di akuarium ikan hiu

Foto ini hasil meminta tolong kepada orang lain. Sebelumnya bingung meminta tolong siapa, karena kamera yang kami gunakan cukup rumit.

Di depan pintu masuk

Bersama...? Ehm... xixixi

Di dalam akuarium raksasa

Bersama Hiu...

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun sudah puas berjalan mengitari wahana di Sea World, termasuk saar di wahana utama. Yaitu ada Barong sai dan memberi makan ikan hiu. Wow…. tapi itu tidak aneh, karena itu agenda rutin, kayaknya bosan juga yah. Dari saya kecil, pasti ada atraksi seperti itu. hehehehe… bukan sombong, tapi yah kalau sudah besar seperti ini lebih ingin melihat sesuatu yang tidak berulang. Tapi ya sudah lah. Perjalanan kami seru, kami harus berda di Stasiun Kampung Bandan sekitar jam 5 sore. Untuk menunggu waktu kami jalan sejenang ke pantai. Jaraknya tidak jauh, ehm sekitar 200 meter.

Fotonya di edit sedikit yah, cuma warna dan dikasih tulisan aja. Biar kesannya klasik kok...

Kami iseng untuk memfoto diri sendiri. Kamera saya letakkan di pinggir pantai, dan kamera saya setting dengan menggunakan timer. Hampir 1 jam kami di sana, untuk sekadar duduk istirahat dan mengobrol sambil menikmati angin pantai. Cuaca sudah agak mendung, kami pun memutuskan untuk beranjak ke stasiun. Tapi perut keroncongan nih, kami memutuskan untuk makan sejenak di AW WTC Mangga Dua. Lagi-lagi junkFood, tapi entah mengapa kami memang tengah mau makan junkfood. Tak apalah, biar tak sehat, tapi itu pun hanya sekali itu saja. Sembari menunggu kereta yang datang pukul 5.27 sore.

Karcis KRL Ekonomi

Setibanya di Stasiun Kampung Bandan, ternyata kami harus naik KRL Ekonomi, karena KRL Commuter Line tiba di stasiun itu pukul 7 malam. Lama sekali kalau kami menggunakan Commuter Line, ya sudahlah kami pun menaiki KRL Ekonomi yang tarifnya hanya Rp 1000 perorang. Dari Stasiun Kampung Bandan kami harus menaiki Commuter Line ke Stasiun Duri. Tapi cukup dengan karcis yang kami punya. Karena memang begitu, kami hanya menumpang untuk transit saja.

Suasana di dalam KRL Ekonomi

Tidak lebih dari 10 menit, kampi pun tiba di Stasiun Duri. Kami harus menunggu selama 15 menit untuk menunggu KRL Ekonomi jurusan Duri – Tangerang datang. Sandika agak terkaget-kaget melihat situasi berbeda di KRL Ekonomi itu. Sangat pengap dan penuh dengan pemandangan menarik. Saya menyebutnya, ‘wajah asli kehidupan Jakarta’. Kehidupan yang penuh dengan kemiskinan, kesulitan hidup.

Pria tua itu

Belum lagi kami menemukan pemandangan yang membuat mata hati kami, terutama Sandika terkaget-kaget. Ada seorang kakek tua yang pekerjaannya penyemir sepatu melintas di depan kami. Kakinya buntung, dia diam di depan kami. Pas di depan kami yang tengah duduk menunggu sekitar 5 menit lagi sampai di Stasiun Batu Ceper. Sebelum pria tua itu melintas, beberapa pemandangan kemiskinan Ibukota Negara Indonesia, Jakarta sudah terlihat, Mulai dari tukang semir sepatu anak, pembersih gerbong anak. Peminta-minta ibu-ibu tua. Yang terakhir yah bapak tua ini. Pria tua itu menutup liburan kami dengan pemikiran dan instropeksi diri yang sangat kuat. Bahwa kami merasa mampu, mempunyai uang, sudah mempunyai pekerjaan, bahkan terkadang sombong dengan apa yang dipunya. Nyatanya itu semua tidak pantas disombongkan, karena kami bermampu dan berpunya di antara orang tak punya dan miskin. Okelah… selesai perjalanan liburan kami yang menyenangkan dan penuh dengan warna. Itu semua tidak akan kami dapatkan jika berlibur menggunakan transportasi pribadi… Melakukan perjalanan dengan transportasi umum tidak hanya hemat biaya, tapi juga bisa menjaga lingkungan agar tetap bersih dari emisi karbon dan polusi udara. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya….

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan
Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Ehm, selamat berakhir pekan kawan-kawan. Mau ke mana akhir pekan ini? Ke mall? Ke taman? Atau di rumah aja? Nggak masalah, ke mana aja boleh.

Kalau saya liburan kali ini (21/1/2012) mau ke Sea World. Asiknya, liburan kali ini saya mau mengisinya dengan sangat santai, dan tetap begaya hidup hijau. Apa aja sih?

Pertama, saya akan menggunakan transportasi massal, yaitu kereta. Saya sih berharap nggak ada jadwal yang mundur yah keretanya. Soalnya kan ini libur. Berlibur menggunakan transportasi massal itu akan lebih mudah loh. Kita tidak perlu repot-repot memarkir motor atau mobil. Nggak perlu lelah mengendarai kendaraan. Tinggal duduk manis dan nikmati perjalanan. Lagi pula, kalau hari minggu ini kan nggak begitu ramai dan sesak yah.

Hal yang harus diperhatikan kalau mau naik transportasi umum, adalah jadwal keberangkatan dan kedatangan. Khusus kereta, harus diperhatikan tuh. Itu untuk memprediksi kapan kita berangkat, kapan pulang, dan berapa lama kita di sana. Jadwal itu bisa dicek di situs kereta listrik. Dengan naik transportasi umum, kita turut mengurangi buangan emisi karbon ke udara, dengan begitu mengurangi kerja tumbuhan untuk mengurainya.

Hak kedua yang harus diperhatikan adalah, mengurangi penggunaan plastik. Jangan terlalu banyak membeli makanan untuk camilan yang menggunakan kemasan. Terlebih jika kita belinya eceran, tentu banyak kemasan plastik yang akan dibuang tuh. Saya meranyankan, bawalah makanan camilan massa, artinya kiloan, kan sudah banyak tuh. Makanan kiloan tidak memakan banyak kemasan plastik. Mungkin kita bisa membawa 3 sampai 5 jenis makanan camilan, dan itu hanya memakan 5 plastik. Beda dibandingkan jika kita membeli camilan eceran, semisal membeli wafer 1 dus yang isinya 30 wafer. Semua terbungkus plastik. Wah makin banyak tuh sampah.

Untuk membawa bekal makanan berat juga demikian. Hindari membungkus makanan dengan steroform atau tempat makan sekali pakai yang terbuat dari gabus. Kalau bisa yang dari bungkus nasi saja. Atau akan lebih baik jika membawa kotak makan sendiri atau rantang. Jika tidak terlalu mendesak bawa makanan berat dari rumah, tidak terlalu masalah membeli makanan berat di luar. Tentunya dengan direncanakan terlebih dahulu, di mana akan makan. Jgn sampai bingung, sedangkan perut sudah keroncongan.

Hal yang terakhir, gunakan pakaian yang sesantai mungkin. Semisal pakai celana pendek dan kaus. Itu akan lebih baik karena untuk menghindari cuaca panas. Dan tentunya bawa handuk tangan yah untuk mengelap keringat. Kurangi pakai tisue. Dengan begitu kita akan menghemat kertas dari hasil penebangan hutan.

Nah, kalau sudah begitu selamat menikmati liburan santai dan tetap menjaga alam yah. Buang sampah pada tempatnya.

‘Selamat datang, MariSini’

‘Selamat datang, MariSini’

Rumah Makan MariSini

Mariii, kembali ke akhir pekan… Ini semakin membuat saya bersemangat, menyisihkan waktu untuk diri saya dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali kekasih tercinta saya, Sandika.

Jumat (3/6/2011) Sibiru rasanya fit sekali, hari itu liputan agak sepi merona. KPK rupanya tidak ada pimpinan, mereka ikut cuti bersama. Al hasil saya ditarik ke Redaksi Utan Kayu KBR68H lebih cepat. Pukul 14.00 WIB saya kembali dengan colorbar (istilah kaset rekaman tak ada suara). Tapi tentunya itu hal biasa di dunia jurnalisme radio yang memerlukan suara dalam sumber pemberitaan. Sesampainya di meja redaksi, saya inisiatif hubungi narasumber untuk beberapa berita, masih soal Nunun dan Udin Demokrat.

Pukul 17.00 WIB, seharusnya saya sudah beranjak pergi karena jam shift sudah habis. Sandika meminta tolong untuk mengantarkan mengambil anak-anak (dua kucing saya, Cisa dan Chiko) di Pets Shop. Mereka sedang ditreatment atau dibersihkan seluruh tubuhnya. Okay, saya meng-iya-kan. Wuuusshhh….

Sesampainya di Tangerang dari Utan Kayu Jakarta Timur, kami berencana untuk ke Lippo Mall Karawaci untuk makan malam. Saat itu Lippo lumayan ramai, ditandai dengan kondisi foodcourt-nya yang penuh sesak. Mutar-mutar kami mencari makan, eeeiitttsss tunggu sebentar…

Pandangan kami tertuju kepada satu sudut counter makanan di sebelah McDonald Foodcourt Lippo. Unik sekali, sebuah counter food yang menyajikan suasana warung kelontong tempo dulu. Warung kelontong itu bernuansa biru dengan desain serba tempo dulu. Kami pun memutuskan untuk makan di warung tersebut.

“Ada tamu…!!!” Seru seorang pelayan warung itu. “Mari sini…” Sahut pelayan lain. Begitu kami disambut dua pelayan kompak mengenakan pakaian motif bunga-bunga berwarna pink ala tukang jamu. Nama warung kelontong itu ‘Warung Makan MariSini’.

Kami duduk, kepala ini tidak berhenti menengok kanan kiri, mengamati apa saja yang dijual, serta menyimak ornamen-ornamen MariSini. Begitu unik! MariSini sangat mengingatkan saya dan Sandika di masa kecil. Bagaimana tidak makanan camilan dan mainan anak-anak semasa kami belia di jual. Misal saja biskuit bunga, cokelat ayam jago, dan macam-macam permen serta biskuit. Semua tersimpan rapi dalam toples. Ada juga mainan-mainan anak-anak yang tergantung dalam plastik-plastik. Misal saja pedang-pedangan plastik, mainan masak-masakan, ada juga balon-balon. Wah… Semua yang ada di situ benar-benar warung jaman dulu. Belum lagi kursinya terbuat dari kayu seperti semasa saya TK. Taplaknya pun bermotif bunga khas warung makan jaman dulu.

Saya teringat semasa kuliah suka ngopi-ngopi di Tugu Proklamasi atau di warung makan di kawasan Salemba bersama teman-teman pergerakan Mahasiswa. Yah, seperti itulah, sangat rasa pinggir jalan kebetulan saya penikmat suasana pinggir jalan yang tidak pernah berbohong.

MariSini yang dibuka sejak awas 2011 itu menyajikan makanan-makanan pinggir jalan. Sebut saja nasi goreng, nasi bakar, mie lontong, gado-gado, tahu goreng, tahi kopyok, mie tek-tek dan lain-lain. Minumannya pun beragam, yah sebut saja khas minuman pinggir jalan.

Dari segi harga, ehm… Saya menilai relatif murah. Sekelas mie goreng atau nasi bakar saja Rp 15 ribu dengan porsi yang lumayan banyak dan mengenyangkan. Minumannya mulai dari sekitar Rp 6 ribuan, mulai dari kopi tubruk, teh manis, dan sebagainya.

Karena perut sudah terisi penuh, hanya Sandika saja yang memesan makanan. Nasi bakar dipilihnya, dan kami cukup terkejut. Rasanya enak sekali, terlebih citarasa pinggir jalan yang gurih dan agak sedikit gosong terasa di mulu. Selain itu porsinya juga cukup pas di perut. Di sajikan dalam mangkok dan piring motif bunga-bunga. Saya lupa namanya jenis piring apa itu. Yang pasti piring dan mangkok itu biasa digunakan di era tahun 60-an oleh masyarakat ‘pinggir jalan’. Wah, kamin kental saja suasananya.

Saya bertanya ke Sandika soal suasana warung itu. Sepertinya ada yang kurang, ehm… Yah lagu tempo dulu. Kami sepakat jika Warung MariSini menyediakan backsound lagu-lagu melayu jaman dulu, seperti lagu penyanyi Malaysia Saloma, Bing Slamet, dan sebagainya. Tepatnya musik tahun 50-60an. Itu saya rasa lebih enak.

“Trimakasih sudah mampir, MariSana…..”

Soerabi, Seandainya Terdengar Gambang Kromong atau Keroncong

Soerabi, Seandainya Terdengar Gambang Kromong atau Keroncong

Ahhhh… Sabtu lagi, hari yang begitu saya nanti di setiap pekan. Apalagi saya baru saja memulai kesibukan baru sebagai wartawan radio di Kantor Berita Radio 68h. Radio besar dengan jaringan 800 radio lebih di Indonesia, Asia dan Australia. Kesibukan saya sebagai wartawan radio pun semakin bertambah, tantangannya banyak prosedur dan alat yang harus di kuasai. Tentunya berkejaran dengan dateline yang lumayan ketat.

Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di Sabtu (28/5/2011) ini. Tapi tentang romantisme makan surabi di Kedai Soerabi Qita, Jalan Kisamaun, Tangerang.

Saya sempat berdiskusi kecil dengan kekasih saya, Sandika. Mengapa surabi? Mengapa bukan serabi? Ehm… Usut punya usut ternyata surabi itu masih satu ‘marga’ dengan serabi. Selain beda asal, tekstur surabi lebih halus dan ‘elit’ dibanding serabi yang ‘merakyat’. Saya suka menyebut serabi sebagai kaum terpinggirkan, semakin gosong dan penyajiannya sederhana, serabi itu semakin berkelas. Kalau surabi, tekstur halusnya membuat kue yang satu ini mudah naik pangkat.

Misal saja, surabi di Soerabi Qita ini. Banyak sekali perubahan dari surabi yang penyajian dasarnya kue surabi plus saus gula merah kental. Nah di Soerabi Qita ini menyanjikan 60 lebih cara penyajian, namun bahan dasarnya kue surabi.

Begitu datang di kedainya, saya sudah dijejali menu yang membingungkan. Belum lagi poster yang terpajang dengan bergambarkan penyanyian surabi mulai yang kategori manis dan asin.

Apa saja yang bisa dipilih? Okay, saat datang dari ke-60 surabi saya pertama pilih surabi oncom sosis spesial. Surabi ini unik, oncom kering (sedikit basah karena pengaruh panas) dan sosis potong ditabur di atas adonan surabi. Tapi anehnya rasanya maknyus pemirsa, semua satu di mulut. Kali ini saya cicip surabi itu dengan saus sambal. Ehm… Modern dan Indonesia klasik menyatu di lidah.

Ada lagi surabi cokelat keju spesial yang dipesan Sandika. Agak mewah surabi yang satu ini, bisa dilihat di sajiannya. Surabi bertabur butiran cokelat saat dipanggang. Setelah itu ditaburi parutan keju craft. Belum cukup, ada saus kental berwarna kehijau-hijauan mengkilap menyelimuti surabi. Sampai sekarang saya memutuskan tidak ingin tahu saus apa itu, saya hanya ingin tahu rasanya yang begitu nikmat. Menyatu dengan rasa kelapa surabi. Rasanya manis dan saya nilai abstrak, antara rasa orange dan srikaya. Tapi saya rasa bukan… Kental saus itu membuat awet di lidah. Terlebih taburan dan butiran cokelat yang meleleh saat dikunyah.

Seret? Ehm tidak mungkin terjadi. Tekstur dan rasa surabi yang satu ini tidak kering seperti serabi yang berbahan dasar kelapa parut. Surabi ini seperti pan cake, namun lebih terasa aroma santan kelapa. Tapi tidak lucu kalau tak pesan minum di kedai ini. Karena banyak beragam jenis minuman, memang sejujurnya standar. Seperti minuman bersoda, teh botol, jus jeruk dan sebagainya. Namun ada satu yang Sandika pilih, yaitu teh tarik. Teh ini menjadi favorit saya yang suka sekali dengan cita rasa timur tengah. Paduan teh dan susu kental ini pas ‘melawan’ surabi manis maupun asin. Apalagi disajikan hangat…

Satu menu lagi yang begitu menggoda saya dan Sandika, surabi duren. Ehm… Sayangnya saat itu durennya belum ada. Namu setelah ditunggu, akhirnya tersedia. Menurut pelayannya, surabi saus duren sering ada di sore hari. Mengapa? Memang keberadaan surabi ini mengikuti laju pertumbuhan duren di pasaran. Jika ada duren, yah ada juga surabi duren.

Karena perut Sandika sudah penuh dengan surabi, maka saya saja yang memesan. Kali ini saya ingin mencoba kinca duren polos. Kinca ini nama saus yang berbahan dasar duren. Namun kinca ini dimasak terlebih dahulu, pengolahannya sama halnya seperti membuat fla puding. Disajikan hangat. Beruntung saya pemesan pertama surabi kinca duren, jadi kinca hangat beraroma tajam duren menusuk hidung.

Penantian 15 menit sajian surabi duren tak sia-sia, surabi kinca duren begitu lezat. Agak sulit menggambarkannya, rasa kinca duren begitu menyatu dengan rasa surabi yang berbahan dasar kelapa santan. Begitu di lidah, rasa hangat kinca tak begitu saja luluh di lidah. 3 suap, aroma duren begitu apik menjilat-jilat dinding mulut saya. Ehhmm… Habislah surabi itu dalam 5 suapan saja…

Saya ingin memesan lagi, tapi ternyata kenyang sekali memakan 2 surabi berbeda jenis rasa.

Rata-rata harga surabi paling murah Rp 4 ribuan, yang paling mahal Rp 10 ribuan. Tentu itu tidak mahal untuk pengalaman menarik menikmati surabi dari sudut berbeda dan langsung disajikan hangat tanpa bahan pewarna dan pengawet.

Suasana klasik Soerabi Qita

Ada hal lain yang menggoda mata, telinga, bahkan batin saya saat menginjakkan kaki di Soerabi Qita. Citra rasa klasik tempo dulu, itu yang saya cari saat menikmati surabi maupun serabi. Soerabi Kita tidak menyajikan suasana modern, semisal berjualan di ruko atau di ruang AC. Justru suasana panas tungku dan arsitektur warung khas ‘kampung’ menyatu dengan rasa surabi.

Apalagi kebetulan backsound lagu-lagi Iwan Fals menjauhkan kesan dan rasa borjuis. Saya tidak menemukan sosok borjuis, rata-rata pembeli datang dari kalangan bawah. Mungkin itu hanya perasaan saya saja, namun cara berpakaian mereka begitu sederhana dengan memakai kaus dan celana pendek. Sama seperti saja, meski saya tahu mereka datang menggunakan Mercy. Itu tak masalah, yang penting sore itu begitu saya nikmati.

Sebenarnya saya berharap lagu yang menjadi backsound adalah keroncong atau gambang kromong. Lagu yang saya gemari hingga saat ini. Suasana klasik pasti makin kental, ditambah begitu banyak rumah tua kaum China Benteng bermukim di kawasan Jalan Kisamaun Tangerang.

Tidak terasa sore menjelang, matahari sudah mulai turun dari tugasnya menerangi siang. ‘Cita rasa’ Tangerang saya teruskan dengan menyisiri bantaran Kali Cisadane, tempat favorit saya di hari libur.