Category Archives: Cerita di Balik?

Banjir Lahar Dingin di 7 Sungai di Merapi, Yogyakarta

Banjir Lahar Dingin di 7 Sungai di Merapi, Yogyakarta

Pada Sabtu sore (25/2) kemarin seluruh sungai yang berhulu di puncak Merapi mengalami banjir lahar dingin. Tujuh sungai yang terjadi banjir lahar dingin adalah Kali Pabelan, Blongkeng, Putih, Batang, Lamat, Krasak, dan Bebeng).

Akibatnya bronjong sepanjang 70 meter di timur Dusun Nabin, Desa Gulon, Kecamatan Salam dan di Dusun Surodadi, Kecamatan Sawangan hanyut. Selain itu akibat hujan deras di lereng Merapi tersebut mengakibatkan 1 rumah roboh (rumah Bapak Senen Seco Utomo, 60 tahun), di Dusun Krajan RT 2 RW 3, Desa Ngargosoko. Sementara itu 10 rumah rusak ringan di dusun Krajan.

Sistem peringatan dini lahar dingin yang dipasang BNPB dan BPPTK Badan Geologi berfungsi dengan baik sehingga masyarakat dapat melakukan evakuasi lebih awal sebelum terkena lahar dingin. Aparat pemerintah hingga tingkat desa memperoleh peringatan dini melalui radio komunikasi dan menyampaikan ke masyarakat. Hingga saat ini aparat BPBD, SAR, TNI, relawan dan masyarakat masih berada di lokasi.

Banjir Landa Kecamatan Tangse, Aceh

Banjir Landa Kecamatan Tangse, Aceh

Banjir bandang yang melanda Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie terjadi setelah hujan yang sangat deras kemarin sore pada Sabtu (25/02) pukul 18.30 wib. Ini merupakan kejadian yang hanya berselang sebelas bulan yang lalu melanda kejadian yang sama.

Lokasi kejadian di Desa Kebun Nilam, Desa Blang Maloe dan Desa Pulo Mesjid, Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie, Aceh. Banjir menyebabkan 1 orang hilang atas nama Tengku Idris (55 tahun). Kerugian materiil:
*Ds.Kebun Nilam :
- 14 Unit rumah hilang
*Ds.Blang Maloe :
- 4 unit rumah hilang
- 1 unit rumah rusak berat

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Kabupaten Pidie, BPBA Provinsi Aceh dan Instansi terkait telah berada di lokasi bencana sejak semalam untuk melakukan penanganan darurat dan mengevakuasi warga ke tempat yang aman. Sementara itu jembatan Kuala Panteue putus total yang mengakibatkan hubungan transportasi dari ke Beureunuen-Tangse tidak berfungsi lagi. Dalam kejadian belum bisa dipasti kerugian yang pasti.

Saat ini 3 alat berat telah ada di lokasi. Logistik dan peralatan mencukupi untuk melakukan penanganan darurat tersebut. Pendataan masih dilakukan sehingga jumlah kerusakan dan lainnya dapat berubah.

Serba Sulit Tanpa Laptop

Serba Sulit Tanpa Laptop

Hah…. Rusak kembali laptop saya. Padahal baru saja di instal ulang, dan keadaan normal. Laptop saya bermerk Axioo Zetta yang dibeli 2009 silam. Sudah agak lama dan sering sekali dipakai memang. Selama itu juga laptop ini menemani aktifitas saya sebagai jurnalis.

Laptop itu sudah mulai tidak normal pada pertengahan tahun 2011. Tiba-tiba LCD blank, tapi dalam keadaan masih mengakses windows. Ada suara saat masuk windows. Saat itu dalam pikiran saya, LCD atau VGA-nya terganggu dan harus diganti. Itu juga yang dikatakan seorang IT di toko perbaikan laptop Pinguin, di Kawasan Jalan Kisamaun Tangerang.

Saya pun mencari tahu, berapa ongkos untuk mengganti LCD. Pusat perbaikan Axioo di Mangga Dua Square mengatakan harganya Rp 1,7 sekian juta. Wah…. Cukup mahal yah. Okay, saya menunda dulu untuk menggantinya. Namun seorang teman bilang, “coba lu connect dulu ke monitor PC. Nah ternyata menyala (seperti di gambar). Ya sudah, berarti memang LCD laptop saya rusak.

4 bulan tanpa laptop, dan tiba-tiba saat laptop itu saya nyalakan, ternyata LCD kembali menyala. Bukan main saya senang. seorang teman yang lain berkata, “mungkin windows-nya udah goyang. Mending lu instal ulang, sekalian bersihin virusnya.”

Okay, saya pun meminta tolong IT di Kantor KBR68H untuk menginstal. Dan ternyata kembali menyala dengan normal. Leganya…..

Tapi rasa senang itu tidak lama, sekitar 3 hari lalu LCD laptop itu kembali mati…. Wah, luar biasa terganggunya…..

Saya tidak bisa menyimpan foto hasil hunting, mengedit foto, menonton DVD, atau sekadar mendengarkan musik. Yang lebih repotnya, saya tidak bisa mengirim suara saat liputan. Jadi saya harus kembali ke kantor untuk menyimpan suara agar bisa siar……

Hah…. Hampanya tanpa laptop…..

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Bersiap naik Commuter Line...

Di dalam Commuter Line

Sabtu (21/1/2012) yang cerah, saya sudah siap dengan rencana pergi ke Sea World dengan seorang sahabat, Sandika. Tapi tidak naik motor, melainkan naik Kereta Listrik Commuter Line. Kebiasaan berlibur akhir pekan dengan menggunakan transportasi umum sepertinya harus mulai digalakan. Karena jumlah kendaraan dan polusi di kota besar seperti Jakarta dan kota penyanggahnya sudah di ambang batas. Itu berdampak pada kerusakan lingkungan, terutama kerusakan udara. Kami mulai perjalanan dari Stasiun Batu Ceper, di Tangerang. Suasana di dalam sangat lengang, bahkan nyaman.  Tentunya ini saya maklumi karena hari libur, tidak banyak orang bekerja. Suasana juga cukup aman untuk berselancar ke dunia mayadengan Black Berry. Oh… iya beda dengan KRL Ekonomi, Commuter line itu terdapat petugas yang berjaga dan menarik tiket, mereka berseragam.

Tiket Commuter Line

Dari Stasiun Batu Ceper, kami menuju Stasiun Duri, Jakarta Barat. Tarif yang harus kami bayar sebesar RP 5.500. Cukup mudah dengan suasana sepi dan leluasa di hari libur. Sesampainya di Stasiun Duri, kami harus transit, mengganti kereta. Karena sistem perkereta-apian saat ini sudah diubah. Mengikuti seperti MRT di Singapura, atau juga Bangkok. Sayangnya ternyata PT. KAI belum siap mengadopsi sistem transportasi massal kereta.  Banyak hal yang menjadi kendala, salah satunya yang banyak diperhatikan adalah fasilitas yang diberikan opererator. Yang paling banyak dikeluhkan di antaranya ketidaktepatan waktu tempuh kereta listrik.

Menunggu KRL menuju Kampung Bandan

Seperti yang kami alami, kami harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Duri menunggu KRL menuju Stasiun Kampung Bandan. Stasiun itu ada di belakang WTC Mangga Dua, Kota Tua, Jakarta Barat. Sandika begitu gelisah menunggu lamanya KRL. Dia terus mengeluh, wajahnya juga terlihat kesal. Ini pengalaman pertamanya berliburan dengan menggunakan transportasi umum. Tapi tentunya harus dibiasakan. Meski begitu, dengan tentunya dia masih terlihat antusias. Akhirnya pukul 11.00 WIB KRL tiba. Kami naik dengan semangat. Selama perjalanan kami bertanya-tanya, ke mana lagi dari Stasiun Kampung Bandan untuk ke Ancol. Menurut informasi peta jalan, ada kereta menuju Ancol. Saya lihat di atas pintu masuk dan keluar Commuter Line. Ehm… tak lama perjalanan kami ke Stasiun Kampung Bandan, hanya 10 menit melewati Stasiun Angke. Kami pun mencari jalur untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ancol, tapi ups… tenyata tidak ada KRL menuju Stasiun Ancol. Lho? Padahal petunjuk informasi di gambar rute KRL jelas terlihat ada lajur khusus ke Ancol. Rupanya informasi itu palsu, itu kami dapatkan setelah bertanya kepada petugas KRL. Ya sudahlah, berarti memang benar petunjuk transportasi umum di Jakarta masih menyesatkan.

Jembatan penyebrangan menuju Ancol dari Stasiun Kampung Bandan

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Ancol dengan berjalan kaki. Lewat jalan ‘tikus’ via parkiran motor WTC, tembus ke jalan raya. Kami pun menyebrang lewat jembatan yang berada di atas sungai ‘hitam’, dan di sebelah jalur rel menuju Stasiun Tanjung Priuk. Sangat panas sekali waktu itu. Saya pun sampai berkeringat. Dari Stasiun Kampung Bandan ke Ancol kira-kira 500 meter. Memang terbilang tidak terlalu jauh. Namun perjalanan terasa jauh karena debu kendaraan yang mengepul. Maklum trotoar jalan tidak terlalu bagus. Sempit sekali, sehingga kami langsung bersenggolan dengan mobil-mobil yang ‘menggas’. Belum lagi untuk menyebrang menuju pintu Ancol tidak ada zebra cross, wah makin bahaya saja kami. Nyawa kami terancam, ah tidak berlebihan itu. Karena kendaraan yang harus kami berhentikan ketika menyebrang adalah truk pembawa peti kemas.

Tiket masuk Ancol

Ah akhirnya sampai juga di Ancol. Kami masuk, dengan membayar tarif Rp 30.000 untuk 2 orang. Harga yang sebanding tentunya untuk menikmati alam pantai di Ancol. Setelah itu kami pun masuk Ancol, pegel sekali kaki ini. Sampai-sampai Sandika pun kelelahan. Memang terasa berat bagi kami yang beru memulai membiasakan berlibur dengan mengunakan angkutan umum.

Di dalam mobil jemputan...

Tapi saya yakin jika sudah terbiasa maka tidak akan terasa lelah, bahkan mengasyikkan. Kami sempat kebingungan setelah masuk kawasan Ancol, ke mana arah untuk ke Sea World? Tenyata ada shuttle bus transit Ancol. Bus itu jenis bus mini berkapasitas 25 penumpang. Namun anehnya tidak ada logo Ancol di bus itu, ada-nya logo Big Bird. Memang Bus itu disewa Ancol dari Big Bird. Nyaman sekali, saat menuju Sea World, hanya kami yang naik. Dan ternyata itu karena tidak banyak yang tahu jika sekarang Ancol menyediakan layanan bus transit bagi pengunjungnya yang tidak membawa kendaraan. Itu sangat membantu tentunya.

Makan siang...

Kami sampai di Sea World, perut kami keroncongan. Karena 1,5 jam perjalanan kami tidak boleh makan dan minum di dalam Commuter Line. Makanan siap saji yang kami pilih di FoodCourt. Dan pilihan jatuh ke makanan siap saji entah dari mana. Hahaha… mengapa makanan siap saji, memang karena kami mencari makanan yang tidak terlalu membuat kenyang. Hanya untuk mengganjal saja.

Loket pentipan barang

Kami memilih paket Family, harganya pun tidak terlalu mahal Rp 38.000 untuk dua orang. Karena kami membawa minum, jadi tidak pelu memesan minum lagi, kami juga membawa makanan kecil. Makanan kecil itu nantinya saya titipkan ke loker. Karena makanan kecil dan minuman tidak bisa dibawa ke area Sea World. Alasannya memang sangat logis, agar di dalam area pameran tidak dikotori. Di dalam juga disediakan makanan kecil dan minuman ringan untuk melepas dahaga. Jadi tidak perlu takut kehauasan. Kami pun masuk. Sebelum masuk, tangan kami harus dicap terlebih dahulu. Tidak lupa juga tas kami diperiksa, memastikan kami tidak membawa makanan dan minuman. Hehehe, tapi kami membandel sedikit. Kami membawa Oreo satu bungkus. Tapi saya jamin tidak akan membuang sampah sembarangan di dalam, itu untuk antisipasi kalau perut keroncongan.

Cap Sea World

Sea World, rasanya asing ketika kami masuk. Saya terakhir kali ke sana ketika masih kecil, duduk di bangku SD. Wah ternyata Sea World tidak sebesar yang saya kira yah. Mungkin saat itu saya membayangkan besar karena masih kecil. Hehehe… Oke sekarang lihat deh foto-foto kami bergaya di dalam.

Ada apaan tuh di belakang?

Lagi tunjuk apaan tuh Sandika?

Di dalam akuarium raksasa

di akuarium ikan hiu

Foto ini hasil meminta tolong kepada orang lain. Sebelumnya bingung meminta tolong siapa, karena kamera yang kami gunakan cukup rumit.

Di depan pintu masuk

Bersama...? Ehm... xixixi

Di dalam akuarium raksasa

Bersama Hiu...

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun sudah puas berjalan mengitari wahana di Sea World, termasuk saar di wahana utama. Yaitu ada Barong sai dan memberi makan ikan hiu. Wow…. tapi itu tidak aneh, karena itu agenda rutin, kayaknya bosan juga yah. Dari saya kecil, pasti ada atraksi seperti itu. hehehehe… bukan sombong, tapi yah kalau sudah besar seperti ini lebih ingin melihat sesuatu yang tidak berulang. Tapi ya sudah lah. Perjalanan kami seru, kami harus berda di Stasiun Kampung Bandan sekitar jam 5 sore. Untuk menunggu waktu kami jalan sejenang ke pantai. Jaraknya tidak jauh, ehm sekitar 200 meter.

Fotonya di edit sedikit yah, cuma warna dan dikasih tulisan aja. Biar kesannya klasik kok...

Kami iseng untuk memfoto diri sendiri. Kamera saya letakkan di pinggir pantai, dan kamera saya setting dengan menggunakan timer. Hampir 1 jam kami di sana, untuk sekadar duduk istirahat dan mengobrol sambil menikmati angin pantai. Cuaca sudah agak mendung, kami pun memutuskan untuk beranjak ke stasiun. Tapi perut keroncongan nih, kami memutuskan untuk makan sejenak di AW WTC Mangga Dua. Lagi-lagi junkFood, tapi entah mengapa kami memang tengah mau makan junkfood. Tak apalah, biar tak sehat, tapi itu pun hanya sekali itu saja. Sembari menunggu kereta yang datang pukul 5.27 sore.

Karcis KRL Ekonomi

Setibanya di Stasiun Kampung Bandan, ternyata kami harus naik KRL Ekonomi, karena KRL Commuter Line tiba di stasiun itu pukul 7 malam. Lama sekali kalau kami menggunakan Commuter Line, ya sudahlah kami pun menaiki KRL Ekonomi yang tarifnya hanya Rp 1000 perorang. Dari Stasiun Kampung Bandan kami harus menaiki Commuter Line ke Stasiun Duri. Tapi cukup dengan karcis yang kami punya. Karena memang begitu, kami hanya menumpang untuk transit saja.

Suasana di dalam KRL Ekonomi

Tidak lebih dari 10 menit, kampi pun tiba di Stasiun Duri. Kami harus menunggu selama 15 menit untuk menunggu KRL Ekonomi jurusan Duri – Tangerang datang. Sandika agak terkaget-kaget melihat situasi berbeda di KRL Ekonomi itu. Sangat pengap dan penuh dengan pemandangan menarik. Saya menyebutnya, ‘wajah asli kehidupan Jakarta’. Kehidupan yang penuh dengan kemiskinan, kesulitan hidup.

Pria tua itu

Belum lagi kami menemukan pemandangan yang membuat mata hati kami, terutama Sandika terkaget-kaget. Ada seorang kakek tua yang pekerjaannya penyemir sepatu melintas di depan kami. Kakinya buntung, dia diam di depan kami. Pas di depan kami yang tengah duduk menunggu sekitar 5 menit lagi sampai di Stasiun Batu Ceper. Sebelum pria tua itu melintas, beberapa pemandangan kemiskinan Ibukota Negara Indonesia, Jakarta sudah terlihat, Mulai dari tukang semir sepatu anak, pembersih gerbong anak. Peminta-minta ibu-ibu tua. Yang terakhir yah bapak tua ini. Pria tua itu menutup liburan kami dengan pemikiran dan instropeksi diri yang sangat kuat. Bahwa kami merasa mampu, mempunyai uang, sudah mempunyai pekerjaan, bahkan terkadang sombong dengan apa yang dipunya. Nyatanya itu semua tidak pantas disombongkan, karena kami bermampu dan berpunya di antara orang tak punya dan miskin. Okelah… selesai perjalanan liburan kami yang menyenangkan dan penuh dengan warna. Itu semua tidak akan kami dapatkan jika berlibur menggunakan transportasi pribadi… Melakukan perjalanan dengan transportasi umum tidak hanya hemat biaya, tapi juga bisa menjaga lingkungan agar tetap bersih dari emisi karbon dan polusi udara. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya….

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan
Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Ehm, selamat berakhir pekan kawan-kawan. Mau ke mana akhir pekan ini? Ke mall? Ke taman? Atau di rumah aja? Nggak masalah, ke mana aja boleh.

Kalau saya liburan kali ini (21/1/2012) mau ke Sea World. Asiknya, liburan kali ini saya mau mengisinya dengan sangat santai, dan tetap begaya hidup hijau. Apa aja sih?

Pertama, saya akan menggunakan transportasi massal, yaitu kereta. Saya sih berharap nggak ada jadwal yang mundur yah keretanya. Soalnya kan ini libur. Berlibur menggunakan transportasi massal itu akan lebih mudah loh. Kita tidak perlu repot-repot memarkir motor atau mobil. Nggak perlu lelah mengendarai kendaraan. Tinggal duduk manis dan nikmati perjalanan. Lagi pula, kalau hari minggu ini kan nggak begitu ramai dan sesak yah.

Hal yang harus diperhatikan kalau mau naik transportasi umum, adalah jadwal keberangkatan dan kedatangan. Khusus kereta, harus diperhatikan tuh. Itu untuk memprediksi kapan kita berangkat, kapan pulang, dan berapa lama kita di sana. Jadwal itu bisa dicek di situs kereta listrik. Dengan naik transportasi umum, kita turut mengurangi buangan emisi karbon ke udara, dengan begitu mengurangi kerja tumbuhan untuk mengurainya.

Hak kedua yang harus diperhatikan adalah, mengurangi penggunaan plastik. Jangan terlalu banyak membeli makanan untuk camilan yang menggunakan kemasan. Terlebih jika kita belinya eceran, tentu banyak kemasan plastik yang akan dibuang tuh. Saya meranyankan, bawalah makanan camilan massa, artinya kiloan, kan sudah banyak tuh. Makanan kiloan tidak memakan banyak kemasan plastik. Mungkin kita bisa membawa 3 sampai 5 jenis makanan camilan, dan itu hanya memakan 5 plastik. Beda dibandingkan jika kita membeli camilan eceran, semisal membeli wafer 1 dus yang isinya 30 wafer. Semua terbungkus plastik. Wah makin banyak tuh sampah.

Untuk membawa bekal makanan berat juga demikian. Hindari membungkus makanan dengan steroform atau tempat makan sekali pakai yang terbuat dari gabus. Kalau bisa yang dari bungkus nasi saja. Atau akan lebih baik jika membawa kotak makan sendiri atau rantang. Jika tidak terlalu mendesak bawa makanan berat dari rumah, tidak terlalu masalah membeli makanan berat di luar. Tentunya dengan direncanakan terlebih dahulu, di mana akan makan. Jgn sampai bingung, sedangkan perut sudah keroncongan.

Hal yang terakhir, gunakan pakaian yang sesantai mungkin. Semisal pakai celana pendek dan kaus. Itu akan lebih baik karena untuk menghindari cuaca panas. Dan tentunya bawa handuk tangan yah untuk mengelap keringat. Kurangi pakai tisue. Dengan begitu kita akan menghemat kertas dari hasil penebangan hutan.

Nah, kalau sudah begitu selamat menikmati liburan santai dan tetap menjaga alam yah. Buang sampah pada tempatnya.

Tuhan Yang Maha Esa, Lindungilah Negeri Kami

Tuhan Yang Maha Esa, Lindungilah Negeri Kami

Kami dari #GKIYasmin mengajak semua yang peduli, siapapun, dari suku, agama, keyakinan, latar belakang apapun untuk bertemu di udara melalui “JAM DOA UNTUK BANGSA” pada setiap hari Sabtu Pukul 10 malam WIB (silahkan bagi yang berada di zona waktu lain menyesuaikannya). Tempat berdoa sesuai dengan keberadaan masing-masing. Lama waktu berdoa bisa disesuaikan dengan tatacara doa masing-masing.

* Mari kita naikkan doa bagi semua umat di bumi Indonesia yang saat ini masih terpasung dalam menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.

* Mari kita doakan perdamaian di antara warga negara yang berbeda agama dan kepercayaannya sehingga dapat saling bahu-membahu membangun negara ini untuk kesejahteraan bersama.

* Mari kita doakan pemerintah dan pihak yang berwenang agar dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secara bijaksana dan adil.

Sampai jumpa di udara melalui doa-doa yang kita naikkan bersama-sama pada setiap Sabtu Pukul 10 malam tepat. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati bangsa dan negara kita. Amin.

RUU Konflik Sosial: TNI Masuk Barak Agar Rakyat Sipil Tenang dan Tentram

RUU Konflik Sosial: TNI Masuk Barak Agar Rakyat Sipil Tenang dan Tentram

Saya ingin bertanya. Pernahkah Anda melihat tentara menjaga perusahaan atau gudang-gudang atau di lokasi pembangunan proyek gedung? Pernahkah Anda melihat tentara mengamankan sebuah demontrasi? Pernahkah Anda melihat tentara mengatur lalu lintas?

Hal seperti itu tidak akan Anda lihat nanti. Saat ini anggota dewan di DPR pusat (DPR-RI) tengah menyusun Rancangan Undang-undang Konflik Sosial (RUU KS). RUU tersebut adalah gagasan dari Komisi Hukum DPR. Undang-undang itu dibuat berlatar belakang selama kurun waktu 13 tahun reformasi banyak pelanggaran HAM yang terjadi dalam sebuah konflik antar sipil di dalam negeri. Konflik itu diamankan oleh militer, dalam hal ini Tentara Nasional Indonesia (TNI). Peran TNI begitu menonjol dalam sebuah operasi pengamanan sipil. Padahal tugas pengamanan sipil merupakan tugas Polisi Republik Indonesia (Polri). Dalam undang-undang soal keamanan negara tercantum batasan peranan TNI dan Polri. Yang menonjol adalah TNI bertugas mengamankan negara dari ancaman kemanan dari luar negeri. Di antaranya menjaga perbatasan darat, laut dan udara. Polri bertugas mengamankan negara dari ancaman keamanan dari/kepada sipil (warga negara). Di antaranya soal stabilitas dan tata tertib nasional.

Namun semasa rezim Presiden Soeharto, peran TNI diperluas (secara tak tertulis) dalam berpolitik. Misal saja, semasa tahun 80-90an ada istilah ‘ABRI masuk desa’. Program itu membuka peran tentara untuk ‘membangun dan mengendalikan negara’. Tentu itu bertolak belakang. Makanya saat ini ada seorang gubernur atau bahkan kepala desa seorang pensiunan tentara. Saat itu masih beranggapan jika kepala pemeerintahan dipegang oleh tentara, maka stabilitas akan aman. Itu keliru, lihat saja yang terjadi di Papua. LSM KontraS banyak membidik pelanggaran Hak Azazi Manusia dilakukan oleh tentara.

Belum lama ini Komisi Hukum DPR melakukan studi banding ke Swedia. Saya berbincang dengan anggota Komisi Hukum Eva Kusuma Sundari soal hasil kunjungan itu meliputi apa hasil studi banding itu.

Kata Eva, dirinya berada di Swedia selama 4 hari. Selama itu ia bertemu dengan pihak kementerian Integrasi dan duta besar HAM dari kementerian luar negeri Swedia. Dalam diskusi itu, Eva juga bertemu dengan 7 pihak yang mewakili parlemen Swedia. Di antaranya wakil ketua parlemen, komisi hukum dan HAM, komisi luar negeri, konstitusi, kaukus pro minoritas dan sekjen parlemen Swedia.

Swedia menekankan upaya maksimal pada “pencegahan konflik” dengan memastikan bahwa setiap warga negara terlindungi HAM. Selain itu seluruh produk hukum dan kebijakan Pemerintah Swedia harus mengintegrasikan perspektif HAM. Maka penegakkan hukum yang netral dan independen menjadi faktor kunci.

Maka kemudian hal yang wajar di Swedia, jika kemudian budaya hukum anti diskriminasi ataupun eksklusi menjadi dihayati menyeluruh di pemerintahan maupun masyarakat.

Di Swedia, lanjut Eva, militer dilarang mencampuri urusan keamanan masyarakat, sehing ga polisi-lah aktor utama penanganan konflik sosial. Polisi sepenuhnya di bawah kendali sipil sehingga ditempatkan di bawah Kementrian Justice dan HAM (Kejaksaan Agung).

Melihat apa yang disusun oleh Swedia dalam mengatur keamanan negaranya, RUU KS paling tidak perlu mencantumkan poin-poin penting seperti asas kekeluargaan, gotong royong, toleransi, HAM, dan pro konsensus. Bukankah itu juga ‘darah daging’ budaya Indonesia. Jadi tepat. Ada juga peran Pemerintah Daerah dan Kepolisian harus menjadi aktor utama penanganan konflik, sebelum peran pengadilan dalam upaya akhir.

Peraturan soal penanganan konflik sosial seperti itu sebenarnya sudah dipakai negara-negara maju seperti Eropa (eks Eropa Timur dan Rusia). Bahkan itu dipakai untuk masuk EU. Pertahanan diurus oleh militer (NATO), namun tetap dalam pengawasan badan HAM PBB.

Ehm… Satu lagi, akibat TNI banyak berpolitik dan main mata dengan urusan bisnis, lihat saja patok perbatasan Kalimantan dengan Malaysia banyak yang bergeser. Tentunya wilayah Malaysia terus bertambah luas puluhan kilometer. Ini akibatnya TNI lalai menjaga keamanan negara, kalau begini sepertinya mudah saja negara Barat atau bahkan Belanda dan Jepang melakukan agresi militer kembali.

Aksi Bakar Diri di Depan Istana Merdeka, Simbol Perlawanan?

Aksi Bakar Diri di Depan Istana Merdeka, Simbol Perlawanan?

metrotvnews.com

Sore, 7 Desember 2011 saya beradan di Redaksi KBR68H Utan Kayu. Saat itu saya baru saja pulang dari peliputan di Komisi Nasional Hak Azasi Manusia. Duduk di ruangan paling pojok dan dengan menikmati kopi panas, saya tercengang membaca Vivanews, ada yang membakar diri di depan Istana Merdeka.

Saat itu ada beberapa media menuliskan dengan informasi yang sama, yang membakar diri adalah perempuan dan aksinya itu dihalau oleh Polisi Sektor Gambir yang biasa berjaga di halaman Monas. Namun belakangan, beberapa media salah memberitakan, rupanya yang membakar diri adalah seorang pria.

Setelah itu suasana redaksi biasa saja, begitu juga saya, karena itu dianggap sebagai kejadian nekat. Namun belakangan jika dilihat dengan serius, itu bukan kejadian biasa. Ada orang yang nekat bakar diri, terlebih di depan simbol Negara, Istana Merdeka. Sebenarnya yang menjadi perhatian adalah ‘membakar diri di Istana Merdeka’. Berbagai interpretasi bisa dibuat bukan?

Setelah itu redaksi memutuskan untuk menangkat pristiwa ini, siapa yang mendorong pria itu membakar diri? Apa motifnya? Sampai

Istimewa

saat ini belum terbuka. Fakta yang baru diketahui soal keadaan pria itu, dia mengalami luka bakar 98 persen, hanya telapak kakinya yang tidak terbakar. Tubuhnya gosong, bibirnya bengkak dan saat ke RSCM tercium bau daging terbakar.

Keesokan harinya (hari ini), beberapa media ‘bermain’. Beberapa media mewawancarai politisi untuk menerawang, kejadian apa ini? Mereka pun menjawab, ini adalah bentuk perlawanan.

Salah satunya di Kompas.com, ‘Aksi Bakar Diri Jadi Lonceng Perlawanan Rakyat‘. Yang bicara adalah Ketua Partai Hati Nurani Rakyat

Istimewa

(Hanura) Yuddy Chrisnandi. Dia bilang presiden jangan meremehkan aksi bakar diri tersebut.

“Lonceng perlawanan rakyat telah berbunyi, waspadalah, bermawas dirilah pemerintah yang adikuasa saat ini,” begitu tulis pernyataan Yuddy dalam berita tersebut.

“Dalam keyakinan kalangan tertentu, membakar diri adalah peristiwa sakramen atau lazim disebut sacrifice, sebuah pengorbanan tertinggi menyerahkan nyawa sebagai tumbal terjadinya perubahan yg lebih baik untuk menyelamatkan orang banyak,” sebut Yuddy.

Terlebih saat ada dugaan yang melakukan bakar diri adalah mahasiswa. Hal itu dinyatakan Ketua Komisi Tenaga Kerja Ribka Tjiptaning. Ribka sendiri yang menanyakan langsung kepada pria itu yang masih sadarkan diri dengan hanya mengangguk-angguk.

Sepertinya masyarakat harus berhati-hati menerima sebuah informasi, bisa jadi ini sebagai bentukkan ajakan perlawanan kelompok tertentu terhadap rezim SBY. Lagi pula ini momen yang bagus para politisi oposisi pemerintahan untuk membuat penyataan doktrinisasi agar rakyat ‘melawan’. melawan dengan bakar diri?

Papua (Lagi): Tombak, Panah, dan Parang Bukan Simbol Perlawanan

Papua (Lagi): Tombak, Panah, dan Parang Bukan Simbol Perlawanan

Sumber: www.fpcn-global.org

Baru-baru ini saya mendapatkan tugas meliput di Papua untuk memproduksi feature SAGA KBR68H. Namun saya menolaknya dengan beberapa pertimbangan, salah satunya ketidaksiapan materi produksi dan perencanaan.

Masalah di Papua memang saya ikuti sejak menjadi Jurnalis di KBR68H, radio Jaringan ini memang sangat konsen dengan isu-isu di pedalaman seperti yang terjadi di Papua. Sebelumnya Aceh, karenanya sebelum 2004 Aceh juga ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer dengan permasalahan Gerakan Aceh Merdeka. Sekarang Papua dengan Organisasi Papua Merdeka.

Yang harus digaris bawahi adalah tidak semua rakyat Papua ingin melepaskan diri dari Indonesia. Yang ingin melepas adalah orang-orang yang tergabung dalam OPM. Mengapa OPM ingin merdeka?

Menurut berbagai sumber hanya satu alasannya, Papua tidak mendapatkan keadilan merata sebagai bagian dari Indonesia. Keadilan itu berupa keadilan ekonomi, pembangunan, hukum, HAM, pendidikan, bahkan hak untuk menikmati alamnya. Jika ada yang bilang Papua itu kaya, iya benar. Buktinya alam Papua yang masih ‘perawan’ dan belum terjamah. Potensi alam termahal dan tereksotis, itu kata teman saya yang sudah pernah ke sana.

Namun, pembangunan Papua memang bukan hanya membutuhkan dana melimpah, tapi komitmen, keseriusan dan keinginan dari pemerintah pemegang kebijakan. Kita lihat saja di jalam kolonial Belanda, Bandung, Bogor, atau Yogyakarta dibangun. Padahal untuk mengakses daerah itu harus melewati gundukan gunung dan perjalanan berliku. Bagaimana bisa? Yah itu menggunakan komitmen dan niat untuk membangun. Begitu juga soal Papua.

Saya pernah berbincang dengan seorang peneliti dari Setara Institut dalam sebuah wawancara. Saat ini Papua membutuhkan solusi, bukan janji. Sayangnya pemerintah setengah hati dalam menangani Papua.

Okay, sudah ada upaya percepatan pembangunan daerah tertinggal, termasuk di Papua. Tapi langkah itu tidak didorong dengan perubahan stigma masyarakat. Pemerintah masih memandang Papua adalah daerah konflik. Maka itu ditempatkanlah tentara dan penambahan personel Brimob sebanyak ratusan pasukan.

Bukannya mengamankan, justru masyarakat setempat resah dan gelisah. Mereka menuding, aparat keamanan di sana justru mengacaukan dan bermain proyek ‘gelap’. Ujung-ujungnya uang dan kekuasaan.

Salah satu pengakuan itu dikatakan Dewan Adat kabupaten Paniyai John Gobai. John bersama teman-temannya dari Papua dan mahasiswa Papua yang berkuliah di Jakarta mengadu ke Komisi Nasional Hak Azazi Manusia (Komnas HAM). Mereka mengeluhkan sikap personel kepolisian yang didatangkan dari luar Papua bersikap sewenang-wenang. Bahkan merusak rumah warga setempat dan mengambil alat-alat perkakas pertanian.

“Rasa takut oleh masyarakat Dagouto (kawasan yang terletak di pinggir Danau Paniai) tersebut semakin ditambah oleh pemeriksaan dari rumah ke rumah oleh pasukan Brimob yang pada akhirnya mereka mengambil dan menempati dua buah rumah, yaitu balai Desa Gagouto dan rumah milik Gereja GKII,” begitu cerita John.

Lanjut John, alasan Brimob hanya satu, mencari anggota OPM. Lantas John menjawab dengan lantang, “kami ini masyarakat biasa, kami bukan gerakan sparatis.”

Kehidupan warga setempat mendadak berubah, ada yang mengungsi karena cemas dengan sweeping, ada juga yang bertahan. John mengira, ini adalah pelanggaran HAM berat karena merampas hak orang lain tanpa bukti jelas.

John pun dengan tegas mewakili warga Paniai, menginginkan tentara dan Brimob untuk keluar dari Papua. Mereka hanya bisa menciptakan suasana mencekam dan penuh dengan alam peperangan. Padahal Papua damai, begitu katanya.

Tombak, Panah, dan Pedang bukan simbol perlawanan

John dalam sebuah obrolan santai berkata tentang kebudayaan Papua yang terkesan anarkis. Menari dengan membawa panah, parang dan tombak, itu bukan simbol perlawanan. “Memang begitulah budaya Papua, itu perlengkapan orang papua sehari-hari untuk berburu,” kata John.

Pernah suatu kali ada seorang Papua membawa panah, saat itu dihampiri oleh Polisi, dan suasana mencekam sempat terjadi. Dikira seorang Papua itu ingin berkelahi. “Itu untuk berburu babi,” tegasnya.

Maka itu, dalam penutup obrolan, pemerintah dan rakyat Indonesia harus melihat Papua dengan pendekatan hati, dengan mengenal budayanya, bahkan karakter alamnya. Papua hanya butuh satu, yaitu keadilan sebagai bagian dari Indonesia.