Monthly Archives: January 2012

Musim Hujan Tiba, Waktu Tangerang Lebih Cepat 2 Jam

Musim Hujan Tiba, Waktu Tangerang Lebih Cepat 2 Jam

Musim saat ini sudah tak ada kepastian, kapan pun bisa datang hujan. Begitu juga sebaliknya, bisa datang kemarau. Ada dampak yang paling terasa karena perubahan iklim yang tak menentu di Tangerang. Yaitu lebih cepatnya waktu, jam di Tangerang lebih cepat 2 jam.

Tentu itu bukan arti sebenarnya. Maksud saya, sekarang warga Tangerang setiap sore sudah berada di lapangan Ahmad Yani pukul 2 siang. Saat itu matahari lagi terik-teriknya. Salah satu orang yang saya tanyakan memang sengaja olahraga agak siang karena biasanya Tangerang akan diguyur hujan pukul 4 sore. Jadi mending olahraga-nya lebih awal agar keringet keluar.

Serba Sulit Tanpa Laptop

Serba Sulit Tanpa Laptop

Hah…. Rusak kembali laptop saya. Padahal baru saja di instal ulang, dan keadaan normal. Laptop saya bermerk Axioo Zetta yang dibeli 2009 silam. Sudah agak lama dan sering sekali dipakai memang. Selama itu juga laptop ini menemani aktifitas saya sebagai jurnalis.

Laptop itu sudah mulai tidak normal pada pertengahan tahun 2011. Tiba-tiba LCD blank, tapi dalam keadaan masih mengakses windows. Ada suara saat masuk windows. Saat itu dalam pikiran saya, LCD atau VGA-nya terganggu dan harus diganti. Itu juga yang dikatakan seorang IT di toko perbaikan laptop Pinguin, di Kawasan Jalan Kisamaun Tangerang.

Saya pun mencari tahu, berapa ongkos untuk mengganti LCD. Pusat perbaikan Axioo di Mangga Dua Square mengatakan harganya Rp 1,7 sekian juta. Wah…. Cukup mahal yah. Okay, saya menunda dulu untuk menggantinya. Namun seorang teman bilang, “coba lu connect dulu ke monitor PC. Nah ternyata menyala (seperti di gambar). Ya sudah, berarti memang LCD laptop saya rusak.

4 bulan tanpa laptop, dan tiba-tiba saat laptop itu saya nyalakan, ternyata LCD kembali menyala. Bukan main saya senang. seorang teman yang lain berkata, “mungkin windows-nya udah goyang. Mending lu instal ulang, sekalian bersihin virusnya.”

Okay, saya pun meminta tolong IT di Kantor KBR68H untuk menginstal. Dan ternyata kembali menyala dengan normal. Leganya…..

Tapi rasa senang itu tidak lama, sekitar 3 hari lalu LCD laptop itu kembali mati…. Wah, luar biasa terganggunya…..

Saya tidak bisa menyimpan foto hasil hunting, mengedit foto, menonton DVD, atau sekadar mendengarkan musik. Yang lebih repotnya, saya tidak bisa mengirim suara saat liputan. Jadi saya harus kembali ke kantor untuk menyimpan suara agar bisa siar……

Hah…. Hampanya tanpa laptop…..

Temukan Warteg Pas di Lidah dan Kantong di Utan Kayu

Temukan Warteg Pas di Lidah dan Kantong di Utan Kayu

Hampir 9 bulan saya menjadi Jurnalis KBR68H yang kantornya ada di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Jarak rumah yang sedikit jauh dan kegemaran saya untuk beraktifitas di luar rumah, saya jadi sering menginap di kantor.

Kebiasaan itu tidak masalah untuk saya, yang penting di sekitar kantor tersedia warung makan.

Awal jadi warga Utan Kayu, saya selalu makan siang dengan makanan yang ada di pinggir jalan. Seperti ketoprak, mie ayam, nasi uduk, atau warteg pas di persimpangan.

Bicara soal warteg itu, ehm subjektif saya rasanya kurang enak. Terlebih perbandingan harga dan rasa tak sebanding. Saya pun mulai memburu tempat makan yang pas di kantong dan di lidah. Seorang teman memberitahu jika di ujung jalan Utan Kayu ada warung makan Tegal (warteg) yang enak, murah, dan bersih.

Saya pun di ajak makan di warung itu. Huft, jalannya agak jauh. Kurang lebih 500 meter menuju ujung jalan Utan Kayu. Tepatnya ke arah halte TransJakarta Utan Kayu Rawamangun.

Tidak ada plang nama di warung itu. Cat warung yang berwarna cokelat gelap membuat kesan sejuk di tengah panasnya matahari Jakarta Timur. Masuk ke warung itu, terasa leluasa. Ruang yang tak sempit membuat ruangan pun terasa sejuk. Angin masuk dari teralis yang sedikit tertutup kain.
Mata beralih ke menu. Ada lebih dari 20 macam menu di lemari pangan kaca mening itu. Ada ikan goreng, rendang, usus kecap, udang sate tepung, sayur toge, oncom tumis, wahhh masih banyak lagi yang tidak saya tahu namanya.

Masakan yang disajikan, ketika sudah dirasakan, nikmat sekali. Hangat dan rasa pas, tidak ada ciri makanan dibuat asal. Belum lagi nasi yang disajikan pulen dan putih, serta hangat.

Ada dua hal yang menurut saya menjadi unggulan. Yaitu ada gorengan tempe, tahu, dan bakwan yang garing dan selalu hangat. Karena beberapa kali saya makan di sana, gorengan yang diletakkan di nampan plastik berlapis koran itu selalu tersaji hangat. Baru diangkat dari penggorengan.

Satu lagi yang menjadi unggulan, tersedianya sambel kecap dan sambel terasi. Ehm….. Perpaduan yang pas jika menu saya telor, sayur oncom, orek teri kacang, kuah opor dan dua buah gorengan. Untuk menu itu saya hanya membayar Rp 8500. Itu sudah termasuk teh manis hangat…..

Ehmm…. Selamat makan……

Saya harus berjalan kurang lebih 500 meter menuju warteg

Saya harus berjalan kurang lebih 500 meter menuju warteg

Tidak ada plang nama warteg

Tidak ada plang nama warteg

Tempatnya sangat bersih dan nyaman

Tempatnya sangat bersih dan nyaman

Menu beraneka ragam

Menu beraneka ragam

Warteg itu sediakan lalapan

Warteg itu sediakan lalapan

Ini menu paling menggiurkan, sambal kecap

Ini menu paling menggiurkan, sambal kecap

Jamsostek untuk ODHA

Jamsostek untuk ODHA

KBR68H – Mulai Desember lalu, PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) memberikan jaminan khusus untuk Orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Jamsostek akan memberi bantuan pengobatan hingga Rp 10 juta pertahun untuk biaya pengobatan. Seberapa besar manfaat jaminan ini bagi ODHA? Reporter KBR68H Pebriansyah Ariefana bersama dua ODHA mendatangi Kantor Jamsostek di Kota Bekasi, Jawa Barat untuk mencari tahu prosedur mendapatkan layanan itu. Nama kedua ODHA ini kami samarkan.

Program Belum Dimulai

Dhani dan Sonny, bukan nama sebenarnya, mendatangi Kantor Jamsostek Bekasi, Jawa Barat. Mereka ingin mendaftar sebagai peserta Jamsostek HIV/AIDS.

Saat ini Dhani bekerja di sebuah lembaga sosial di Bekasi, sedangkan Sonny bekerja di lembaga pendidikan di kota yang sama. Mereka mengaku belum tahu banyak soal  program jamsostek khusus ODHA.

Mereka menceritakan awal mula terpapar virus ganas itu pada 2007 lalu. Penyebabnya adalah penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian.

“Gue ngerasain nggak enak, gue konsul ke dokter. Kebetulan dokter nyokap, di tanya pernah narkoba nggak. Kata gue pernah, takutnya ada HIV, terus gue disuruh tes dan ternyata positif. Gue shock yah, bagaimana yah pikiran juga. Tapi keluarga gue yang memberikan motivasi. Udah, mau diapain lagi. Nggak usah dibalik kondisi lu, yah lu harus terima begini”, ujar Dhani.

“Kalau awal sebelum sakit sih gue suka pakai. Pakai jarum suntik gitu secara sharing. Kalau gitu kan belum ketahuan, ketahuannya jarak 3 tahun sampai 5 tahun baru jatuh sakit”, sambung Sonny.

Berbagai Obat untuk HIV-AIDSApa aja yang kamu rasain?

“Lambung sakit, kalau narkoba begitu kan jarang makan, jadi yang diserang lambung. Lever ke serang, malamnya panas dingin. Begitu lah secara terus-terusan, masih berobat di rumah, belum dibawa ke rumah sakit. Pas dibawa ke rumah sakit, baru tahu kalau HIV positif”, sambung Sonny.

Di lantai 2 Kantor Jamsostek Bekasi, Dhani dan Sonny diminta menemui petugas pemasaran. Mereka disuruh menunggu hampir sejam lamanya. Petugas pemasaran pun lantas menghampiri mereka.

Dhani menanyakan prosedur pendaftaran layanan Jamsostek untuk ODHA. Namun petugas pemasaran itu menjawab dengan ragu.

“Kayaknya kalau AIDS sudah tercover apa belum yah, kayaknya saya… (gugup). Kemarin memang ada sosialisasi tambahan fasilitas yah, soal kanker juga. Tapi kalau HIV/AIDS ini malah saya belum tahu yah. Jadi begini pak, kalau berobat kan kita tahu penyakitnya apa, nah tadi sudah saya sampaikan pengidap AIDS ini di-cover atau tidak, saya belum tahu 100 persen nih pak. Mungkin bapak tanya bisa di-cover atau tidak gitu yah.”

“Gimana yah… gini aja, mungkin bapak langsung ke bawah aja kali yah. Ke Ibu Merry, bagian pelayanan kesehatan”, lanjut petugas itu.

Dhani dan Sonny beranjak mencari Ibu Merry yang dimaksud tadi. Mereka ke loket pelayanan informasi di lantai 1. Orang yang dicari tak ada di tempatnya.

Petugas loket informasi mengatakan, program Jamsostek khusus AIDS memang sudah diluncurkan sejak 1 Desember tahun lalu, namun hingga saat ini belum bisa dijalankan. Sebab PT Jamsostek belum menentukan syarat pendaftaran sampai pencairan dana klaim kesehatan secara pasti.

Petugas : “Ini diperuntukan juga ada kriterianya, seperti kepesertaan peserta sudah berapa tahun. Ada minimal-minimalnya. Perusahaan jadi peserta JPK (Jaminan Pengamanan Kesehatan) sudah berapa tahun.”

Dhani : “Itu minimal berapa tahun, saya boleh tahu?”

Petugas : “Di atas 1 tahun. Tapi nanti kita lihat di bawah atau di atas UMK, jadi ada kategorinya. Jadi memang sudah ada tambahan. Tapi teknisnya sampai saat ini belum ada.”

Jawaban yang membuat kedatangan Dhani dan Sonny sia-sia. Tujuan untuk mendaftar tak kesampaian. Padahal mereka berharap layanan ini bisa membantu mengurangi biaya pengobatan.

Mas'ud MuhammadJanji Manis untuk ODHA

PT Jamsostek meresmikan program jaminan sosial untuk Orang Dengan HIV/AIDS atau ODHA sejak 1 Desember 2011. Namun program itu belum berjalan. Kepala Divisi Pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Jamsostek Mas’ud Muhammad mengatakan, jamsostek khusus ODHA masih menunggu persetujuan kenaikan upah minimum pembayaran iuran Jamsostek.

“Perubahan kedelapan PP 14, di mana selling weighted Rp 1 juta menjadi 2 kali PTKP. Upah naik, PTKP jadi naik, tapi kalau rupiah mutlak, itu bisa ditinjau secara berkala. Kemarin kita udah rapat dengan LKS Tripnas, Tripartit Nasional. Dan mereka sudah setuju, tinggal pemerintah sekarang. Kalau itu sudah disetujui, dan jalan. Tapi ada persyaratan khusus dan umum. Perusahaan harus tertib, harus sudah ikut JPK selama setahun. Kalau semua udah ikut 1 tahun, semua bisa ikut.”

Mas’ud menambahkan setiap ODHA yang terdaftar menjadi anggota Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) otomatis mendapatkan fasilitas asuransi khusus pengobatan AIDS. Peserta akan mendapatkan pembiayaan sebesar Rp 10 sampai 20 juta pertahun. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengikuti standar kebutuhan pemeliharaan kesehatan ODHA di rumah sakit.

Agar dana tersebut cair, si pekerja harus mendapatkan surat rekomendasi sebagai ODHA dari perusahaan tempat ia bekerja. Itulah yang menjadi masalah. Diskriminasi terhadap pekerja ODHA masih ada, seperti yang pernah dialami Dhani.

“Gue HIV Positif waktu kerja jadi security, di Tangerang tahun 2007. Sudah kerja di situ, gue positif di situ. Dan akhirnya gue bicara jujur, dan nggak tau ini stigma atau nggak. Yang jelas gue diberhentikan. Diminta untuk berobat dulu sampai gue pulih, setelah itu silahkan mau coba masuk lagi, silahkan coba. Tapi udah pernah gue jalanin, posisinya nggak ada. Gue mau masuk ke situ lagi posisinya nggak ada.”

Sementara rasa rendah diri dan khawatir akan diskriminasi pernah dialami Sonny.

“Tadinya dari perusahaan, udah masih bisa kok kerja lagi. Mereka nggak tahu kan saya sakitnya apa. Yang mereka tahu cuma paru-paru dan liver. Dia masih bisa terima sakit saya seperti itu, masih bisa kerja lagi. Dan akhirnya gue keluar aja.”

Kenapa nggak ngaku aja kalau HIV?

“Kalau di perusahaan kan masih awam, saya juga nggak tahu kayak gimana penyakit-penyakit yang aneh-aneh itu bagaimana. Kemungkinan yah bisa dihandel, bisa di-cut.”

Pernah nyoba? Pernah kepikiran untuk mau bilang?

“Pernah, tapi masih ketakutan mengungkap jati diri… saya nih positif, nggak ada keberanian. Intinya sih takutnya sih intinya takut dipecat. Dikeluarkan secara tidak hormat.”

Pengalaman itu dirasakan Dhani dan Sonny di tempat kerja yang lama. Kini di tempat kerja baru, mereka bisa bernafas lega. Seharusnya, ODHA tak perlu kuatir karena Undang-undang Ketenakerjaan menjamin perlindungan bagi ODHA untuk bekerja.

Nyatanya peraturan hanya menjadi coretan tinta di atas kertas. Contohnya syarat bekerja yang diterapkan PT Prima Karya Sarana Sejahtera. Perusahaan penyedia tenaga kerja untuk sebuah Bank BUMN itu tidak akan menerima karyawan yang menderita HIV/AIDS. Staff Bagian Personalia PT PKSS Rustianty Safrina.

“Untuk saat ini kita belum mendapatkan kasus karyawan yang kena HIV AIDS.”

Tapi ada larangan untuk mereka yang kena HIV AIDS untuk tidak bekerja?

“Oh iya tidak boleh bekerja.”

Alasan untuk tidak menerima calon karyawan yang terkena HIV AIDS apa?

“Oh iya karena keinginan dari BRI juga. Karena faktor bekerja, di BRI itu kan kita kontrak 1 tahun. Selama kontrak itu kan diharapkan para pekerja itu kan sehat selalu. Dan pekerjaan di bank itu sangat luar biasa padatnya, sering lembur, kalau ada penyakit berat kan susah lagi.”

Direktur LSM AIDS Grapic Daniel Ramadhan mengatakan selain hak untuk bekerja tanpa diskriminasi, ODHA juga harus mendapat kebijakan khusus dari perusahaan.

“ODHA itu sebenarnya punya hak untuk bekerja di perusahaan mana pun. Bukannya ODHA kalau bekerja harus dibuat khusus, tidak begitu. Tapi paling tidak ada kebijakan yang khusus sewaktu pekerjanya HIV Positif. Misalnya dengan tunjangan kesehatan yang diberikan perusahaan. Yang kedua untuk perijinan dan istirahat, mungkin juga harus fleksibel juga.”

Tunjangan kesehatan tentunya menjadi hal yang berharga. Kata Daniel, kebutuhan hidup seorang ODHA setiap bulannya bisa 3 kali lipat orang normal. Selain untuk menjaga makanan teratur dan pola gizinya, seorang ODHA bisa merogoh kocek hingga Rp 1,5 juta untuk pengobatan.

Janji Jamsostek ditunggu oleh Dhani dan Sonny. Mereka merasakan tingginya biaya hidup sebagai ODHA. Buat Dhani, dengan gaji Rp 1,5 juta perbulan, ia harus menghidupi keluarganya, selain untuk mencukupi kebutuhan pengobatan. Terlebih istrinya juga seorang ODHA.

“Seperti pengecekan laboratorium, kesehatan gue udah sejauh mana. Beratnya di situ, itu cukup mahal. Termasuk untuk obat-obat dan lain-lain. Itu harus gue kumpulin di setiap bulannya.”

Gaji kamu berapa?

“Standar aja Rp 1,5 juta. Gue nikah sama istri gue dulu dia janda punya anak 3. Setelah nikah sama gue punya anak 1. Jadi gue ngurusin 4 anak.”

Kalau Jamsostek benar-benar memberikan tunjangan kesehatan pengobatan HIV/AIDS, itu akan sangat membantu Sonny dan Dhani. Paling tidak akan memangkas pengeluaran untuk biaya berobat.

“Dari kalangan yang tidak mampu itu, berat juga bayarannya terlalu tinggi. Harapan gue sendiri sih jamsostek bisa menerima dari kalangan ODHA, yang nggak mampu sama sekali. Itu sangat berguna banget”, kata Sonny.

“Gue yakin ini sangat membantu banget, karena pengalaman gue udah punya jamsostek. Buat berobat istri gue juga membantu. Apalagi ada program untuk HIV AIDS, khususnya untuk gue sendiri, umumnya untuk temen gue”, tutup Dhani.

Untuk lebih lengkap silakan baca di situs KBR68H: http://www.kbr68h.com/saga/77-saga/17796-jamsostek-untuk-odha-masih-janji-manis-di-mulut-saja

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Liburan Pertama Menggunakan Transportasi Umum

Bersiap naik Commuter Line...

Di dalam Commuter Line

Sabtu (21/1/2012) yang cerah, saya sudah siap dengan rencana pergi ke Sea World dengan seorang sahabat, Sandika. Tapi tidak naik motor, melainkan naik Kereta Listrik Commuter Line. Kebiasaan berlibur akhir pekan dengan menggunakan transportasi umum sepertinya harus mulai digalakan. Karena jumlah kendaraan dan polusi di kota besar seperti Jakarta dan kota penyanggahnya sudah di ambang batas. Itu berdampak pada kerusakan lingkungan, terutama kerusakan udara. Kami mulai perjalanan dari Stasiun Batu Ceper, di Tangerang. Suasana di dalam sangat lengang, bahkan nyaman.  Tentunya ini saya maklumi karena hari libur, tidak banyak orang bekerja. Suasana juga cukup aman untuk berselancar ke dunia mayadengan Black Berry. Oh… iya beda dengan KRL Ekonomi, Commuter line itu terdapat petugas yang berjaga dan menarik tiket, mereka berseragam.

Tiket Commuter Line

Dari Stasiun Batu Ceper, kami menuju Stasiun Duri, Jakarta Barat. Tarif yang harus kami bayar sebesar RP 5.500. Cukup mudah dengan suasana sepi dan leluasa di hari libur. Sesampainya di Stasiun Duri, kami harus transit, mengganti kereta. Karena sistem perkereta-apian saat ini sudah diubah. Mengikuti seperti MRT di Singapura, atau juga Bangkok. Sayangnya ternyata PT. KAI belum siap mengadopsi sistem transportasi massal kereta.  Banyak hal yang menjadi kendala, salah satunya yang banyak diperhatikan adalah fasilitas yang diberikan opererator. Yang paling banyak dikeluhkan di antaranya ketidaktepatan waktu tempuh kereta listrik.

Menunggu KRL menuju Kampung Bandan

Seperti yang kami alami, kami harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Duri menunggu KRL menuju Stasiun Kampung Bandan. Stasiun itu ada di belakang WTC Mangga Dua, Kota Tua, Jakarta Barat. Sandika begitu gelisah menunggu lamanya KRL. Dia terus mengeluh, wajahnya juga terlihat kesal. Ini pengalaman pertamanya berliburan dengan menggunakan transportasi umum. Tapi tentunya harus dibiasakan. Meski begitu, dengan tentunya dia masih terlihat antusias. Akhirnya pukul 11.00 WIB KRL tiba. Kami naik dengan semangat. Selama perjalanan kami bertanya-tanya, ke mana lagi dari Stasiun Kampung Bandan untuk ke Ancol. Menurut informasi peta jalan, ada kereta menuju Ancol. Saya lihat di atas pintu masuk dan keluar Commuter Line. Ehm… tak lama perjalanan kami ke Stasiun Kampung Bandan, hanya 10 menit melewati Stasiun Angke. Kami pun mencari jalur untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ancol, tapi ups… tenyata tidak ada KRL menuju Stasiun Ancol. Lho? Padahal petunjuk informasi di gambar rute KRL jelas terlihat ada lajur khusus ke Ancol. Rupanya informasi itu palsu, itu kami dapatkan setelah bertanya kepada petugas KRL. Ya sudahlah, berarti memang benar petunjuk transportasi umum di Jakarta masih menyesatkan.

Jembatan penyebrangan menuju Ancol dari Stasiun Kampung Bandan

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Ancol dengan berjalan kaki. Lewat jalan ‘tikus’ via parkiran motor WTC, tembus ke jalan raya. Kami pun menyebrang lewat jembatan yang berada di atas sungai ‘hitam’, dan di sebelah jalur rel menuju Stasiun Tanjung Priuk. Sangat panas sekali waktu itu. Saya pun sampai berkeringat. Dari Stasiun Kampung Bandan ke Ancol kira-kira 500 meter. Memang terbilang tidak terlalu jauh. Namun perjalanan terasa jauh karena debu kendaraan yang mengepul. Maklum trotoar jalan tidak terlalu bagus. Sempit sekali, sehingga kami langsung bersenggolan dengan mobil-mobil yang ‘menggas’. Belum lagi untuk menyebrang menuju pintu Ancol tidak ada zebra cross, wah makin bahaya saja kami. Nyawa kami terancam, ah tidak berlebihan itu. Karena kendaraan yang harus kami berhentikan ketika menyebrang adalah truk pembawa peti kemas.

Tiket masuk Ancol

Ah akhirnya sampai juga di Ancol. Kami masuk, dengan membayar tarif Rp 30.000 untuk 2 orang. Harga yang sebanding tentunya untuk menikmati alam pantai di Ancol. Setelah itu kami pun masuk Ancol, pegel sekali kaki ini. Sampai-sampai Sandika pun kelelahan. Memang terasa berat bagi kami yang beru memulai membiasakan berlibur dengan mengunakan angkutan umum.

Di dalam mobil jemputan...

Tapi saya yakin jika sudah terbiasa maka tidak akan terasa lelah, bahkan mengasyikkan. Kami sempat kebingungan setelah masuk kawasan Ancol, ke mana arah untuk ke Sea World? Tenyata ada shuttle bus transit Ancol. Bus itu jenis bus mini berkapasitas 25 penumpang. Namun anehnya tidak ada logo Ancol di bus itu, ada-nya logo Big Bird. Memang Bus itu disewa Ancol dari Big Bird. Nyaman sekali, saat menuju Sea World, hanya kami yang naik. Dan ternyata itu karena tidak banyak yang tahu jika sekarang Ancol menyediakan layanan bus transit bagi pengunjungnya yang tidak membawa kendaraan. Itu sangat membantu tentunya.

Makan siang...

Kami sampai di Sea World, perut kami keroncongan. Karena 1,5 jam perjalanan kami tidak boleh makan dan minum di dalam Commuter Line. Makanan siap saji yang kami pilih di FoodCourt. Dan pilihan jatuh ke makanan siap saji entah dari mana. Hahaha… mengapa makanan siap saji, memang karena kami mencari makanan yang tidak terlalu membuat kenyang. Hanya untuk mengganjal saja.

Loket pentipan barang

Kami memilih paket Family, harganya pun tidak terlalu mahal Rp 38.000 untuk dua orang. Karena kami membawa minum, jadi tidak pelu memesan minum lagi, kami juga membawa makanan kecil. Makanan kecil itu nantinya saya titipkan ke loker. Karena makanan kecil dan minuman tidak bisa dibawa ke area Sea World. Alasannya memang sangat logis, agar di dalam area pameran tidak dikotori. Di dalam juga disediakan makanan kecil dan minuman ringan untuk melepas dahaga. Jadi tidak perlu takut kehauasan. Kami pun masuk. Sebelum masuk, tangan kami harus dicap terlebih dahulu. Tidak lupa juga tas kami diperiksa, memastikan kami tidak membawa makanan dan minuman. Hehehe, tapi kami membandel sedikit. Kami membawa Oreo satu bungkus. Tapi saya jamin tidak akan membuang sampah sembarangan di dalam, itu untuk antisipasi kalau perut keroncongan.

Cap Sea World

Sea World, rasanya asing ketika kami masuk. Saya terakhir kali ke sana ketika masih kecil, duduk di bangku SD. Wah ternyata Sea World tidak sebesar yang saya kira yah. Mungkin saat itu saya membayangkan besar karena masih kecil. Hehehe… Oke sekarang lihat deh foto-foto kami bergaya di dalam.

Ada apaan tuh di belakang?

Lagi tunjuk apaan tuh Sandika?

Di dalam akuarium raksasa

di akuarium ikan hiu

Foto ini hasil meminta tolong kepada orang lain. Sebelumnya bingung meminta tolong siapa, karena kamera yang kami gunakan cukup rumit.

Di depan pintu masuk

Bersama...? Ehm... xixixi

Di dalam akuarium raksasa

Bersama Hiu...

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun sudah puas berjalan mengitari wahana di Sea World, termasuk saar di wahana utama. Yaitu ada Barong sai dan memberi makan ikan hiu. Wow…. tapi itu tidak aneh, karena itu agenda rutin, kayaknya bosan juga yah. Dari saya kecil, pasti ada atraksi seperti itu. hehehehe… bukan sombong, tapi yah kalau sudah besar seperti ini lebih ingin melihat sesuatu yang tidak berulang. Tapi ya sudah lah. Perjalanan kami seru, kami harus berda di Stasiun Kampung Bandan sekitar jam 5 sore. Untuk menunggu waktu kami jalan sejenang ke pantai. Jaraknya tidak jauh, ehm sekitar 200 meter.

Fotonya di edit sedikit yah, cuma warna dan dikasih tulisan aja. Biar kesannya klasik kok...

Kami iseng untuk memfoto diri sendiri. Kamera saya letakkan di pinggir pantai, dan kamera saya setting dengan menggunakan timer. Hampir 1 jam kami di sana, untuk sekadar duduk istirahat dan mengobrol sambil menikmati angin pantai. Cuaca sudah agak mendung, kami pun memutuskan untuk beranjak ke stasiun. Tapi perut keroncongan nih, kami memutuskan untuk makan sejenak di AW WTC Mangga Dua. Lagi-lagi junkFood, tapi entah mengapa kami memang tengah mau makan junkfood. Tak apalah, biar tak sehat, tapi itu pun hanya sekali itu saja. Sembari menunggu kereta yang datang pukul 5.27 sore.

Karcis KRL Ekonomi

Setibanya di Stasiun Kampung Bandan, ternyata kami harus naik KRL Ekonomi, karena KRL Commuter Line tiba di stasiun itu pukul 7 malam. Lama sekali kalau kami menggunakan Commuter Line, ya sudahlah kami pun menaiki KRL Ekonomi yang tarifnya hanya Rp 1000 perorang. Dari Stasiun Kampung Bandan kami harus menaiki Commuter Line ke Stasiun Duri. Tapi cukup dengan karcis yang kami punya. Karena memang begitu, kami hanya menumpang untuk transit saja.

Suasana di dalam KRL Ekonomi

Tidak lebih dari 10 menit, kampi pun tiba di Stasiun Duri. Kami harus menunggu selama 15 menit untuk menunggu KRL Ekonomi jurusan Duri – Tangerang datang. Sandika agak terkaget-kaget melihat situasi berbeda di KRL Ekonomi itu. Sangat pengap dan penuh dengan pemandangan menarik. Saya menyebutnya, ‘wajah asli kehidupan Jakarta’. Kehidupan yang penuh dengan kemiskinan, kesulitan hidup.

Pria tua itu

Belum lagi kami menemukan pemandangan yang membuat mata hati kami, terutama Sandika terkaget-kaget. Ada seorang kakek tua yang pekerjaannya penyemir sepatu melintas di depan kami. Kakinya buntung, dia diam di depan kami. Pas di depan kami yang tengah duduk menunggu sekitar 5 menit lagi sampai di Stasiun Batu Ceper. Sebelum pria tua itu melintas, beberapa pemandangan kemiskinan Ibukota Negara Indonesia, Jakarta sudah terlihat, Mulai dari tukang semir sepatu anak, pembersih gerbong anak. Peminta-minta ibu-ibu tua. Yang terakhir yah bapak tua ini. Pria tua itu menutup liburan kami dengan pemikiran dan instropeksi diri yang sangat kuat. Bahwa kami merasa mampu, mempunyai uang, sudah mempunyai pekerjaan, bahkan terkadang sombong dengan apa yang dipunya. Nyatanya itu semua tidak pantas disombongkan, karena kami bermampu dan berpunya di antara orang tak punya dan miskin. Okelah… selesai perjalanan liburan kami yang menyenangkan dan penuh dengan warna. Itu semua tidak akan kami dapatkan jika berlibur menggunakan transportasi pribadi… Melakukan perjalanan dengan transportasi umum tidak hanya hemat biaya, tapi juga bisa menjaga lingkungan agar tetap bersih dari emisi karbon dan polusi udara. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya….

Perlindungan Hukum untuk Pejalan Kaki

Perlindungan Hukum untuk Pejalan Kaki

Siang yang cerah, Minggu (22/1/2012) pukul 11.00 WIB, ada 13 orang di halte pemberhentian angkutan umum di Kawasan Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat, pas di depan Kantor Kementerian Perdagangan RI. Mereka tengah santai, sebagian baru saja pulang berolahraga di kawasan silang Monas. Jarak halte itu dari silang Monas tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter.

Tiba-tiba, sebuah Mobil bermerk Daihatsu Xenia Hitam nomor polisi B 2479 XI datang dari arah kanan mereka. Mobil itu berkecepatan tinggi langsung menyeruduk ke-13 orang tersebut. Akhirnya Moch Hudzaifal alias Ujay (16), Firmansyah (21), Suyatmi (51), Yusuf Sigit (16), Ari (2,5), Nanik Riyanti (25), Fifit Alfia Fitriasih (18), dan seorang remaja laki-laki dengan umur kurang lebih 17 tahun tewas!

Sisanya, Siti Mukaromah (30), Moh Akbar (22), Keny (8), Indra (11), dan Teguh Hadi Purnomo (30) luka-luka berat. Ke-13 orang itu langsung mendapat perawatan di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto di kawasan Senen.

Tidak lama polisi datang, karena kebetulan di Pos Polisi Lalu Lintas Jaga di Tugu Tani sudah berjaga sejak pagi. Nama si penabrak pun sudah diketahui. Sang penabrak seorang perempuan berusia 29 tahun. Namanya Afriyani Susanti, tinggal di Jalan Ranggang Terus No 142 Sungai Bambu, Jakarta Utara. Diketahui Afriayani tidak memiliki Surat Izim Mengemudi (SIM) dan mobilnya tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Afrianyani mengaku kehilangan konsentrasi dan panik saat mengemudi, sampai-sampai ia membanting stir-nya ke arah bahu jalan.

Mendengar kejadian itu, dalam pikiran ‘ternyata tidak ada tempat yang aman di Jakarta’ yah. Bahkan di tempat halte yang dilindungi hukum, bisa membuat nyawa melayang.

Buruknya perilaku pengguna jalan, terutama para pengendara kendaraan bermotor, sudah menjadi hal yang tidak disangkal. Bahkan di kota besar, seperti Jakarta, pejalan kaki seperti tidak mempunyai hak untuk berjalan di trotoar. Dalam keadaan macet, trotoar bisa berubah menjadi jalan raya.

Di negara kecil seperti Singapura, pejalan kaki sangat dijaga oleh negara. Bahkan seorang pengendara menghormati pejalan kaki tang menyebrang di zebra cross. Di sana dilindungi undang-undang, di Indonesia juga.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan pasal 284 jelas melindungi keselamatan pejalan kaki. Bunyi Pasal 284: Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Itu juga berlaku untuk pejalan kaki yang menyebrang di trotoar, diri pejalan kaki dalam trotoar sebenarnya dilindungi undang-undang. Jadi jangan takut untuk menyebrang di trotoar.

Masalah lain adalah regulasi hukum di kepolisian yang masih lemah. Misalnya saja mudahnya mengeluarkan izin mengemudi pada masyarakat. Reformasi di tubuh polri hanya menjadi hisapan jempol. Buktinya masih banyak calo SIM dan layanan administrasi kendaraan di setiap SAMSAT dan Polres.

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan

Liburan Menyenangkan dan Ramah Lingkungan
Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Hidup Hijau, senyumanindonesia.wordpress.com

Ehm, selamat berakhir pekan kawan-kawan. Mau ke mana akhir pekan ini? Ke mall? Ke taman? Atau di rumah aja? Nggak masalah, ke mana aja boleh.

Kalau saya liburan kali ini (21/1/2012) mau ke Sea World. Asiknya, liburan kali ini saya mau mengisinya dengan sangat santai, dan tetap begaya hidup hijau. Apa aja sih?

Pertama, saya akan menggunakan transportasi massal, yaitu kereta. Saya sih berharap nggak ada jadwal yang mundur yah keretanya. Soalnya kan ini libur. Berlibur menggunakan transportasi massal itu akan lebih mudah loh. Kita tidak perlu repot-repot memarkir motor atau mobil. Nggak perlu lelah mengendarai kendaraan. Tinggal duduk manis dan nikmati perjalanan. Lagi pula, kalau hari minggu ini kan nggak begitu ramai dan sesak yah.

Hal yang harus diperhatikan kalau mau naik transportasi umum, adalah jadwal keberangkatan dan kedatangan. Khusus kereta, harus diperhatikan tuh. Itu untuk memprediksi kapan kita berangkat, kapan pulang, dan berapa lama kita di sana. Jadwal itu bisa dicek di situs kereta listrik. Dengan naik transportasi umum, kita turut mengurangi buangan emisi karbon ke udara, dengan begitu mengurangi kerja tumbuhan untuk mengurainya.

Hak kedua yang harus diperhatikan adalah, mengurangi penggunaan plastik. Jangan terlalu banyak membeli makanan untuk camilan yang menggunakan kemasan. Terlebih jika kita belinya eceran, tentu banyak kemasan plastik yang akan dibuang tuh. Saya meranyankan, bawalah makanan camilan massa, artinya kiloan, kan sudah banyak tuh. Makanan kiloan tidak memakan banyak kemasan plastik. Mungkin kita bisa membawa 3 sampai 5 jenis makanan camilan, dan itu hanya memakan 5 plastik. Beda dibandingkan jika kita membeli camilan eceran, semisal membeli wafer 1 dus yang isinya 30 wafer. Semua terbungkus plastik. Wah makin banyak tuh sampah.

Untuk membawa bekal makanan berat juga demikian. Hindari membungkus makanan dengan steroform atau tempat makan sekali pakai yang terbuat dari gabus. Kalau bisa yang dari bungkus nasi saja. Atau akan lebih baik jika membawa kotak makan sendiri atau rantang. Jika tidak terlalu mendesak bawa makanan berat dari rumah, tidak terlalu masalah membeli makanan berat di luar. Tentunya dengan direncanakan terlebih dahulu, di mana akan makan. Jgn sampai bingung, sedangkan perut sudah keroncongan.

Hal yang terakhir, gunakan pakaian yang sesantai mungkin. Semisal pakai celana pendek dan kaus. Itu akan lebih baik karena untuk menghindari cuaca panas. Dan tentunya bawa handuk tangan yah untuk mengelap keringat. Kurangi pakai tisue. Dengan begitu kita akan menghemat kertas dari hasil penebangan hutan.

Nah, kalau sudah begitu selamat menikmati liburan santai dan tetap menjaga alam yah. Buang sampah pada tempatnya.

Tuhan Yang Maha Esa, Lindungilah Negeri Kami

Tuhan Yang Maha Esa, Lindungilah Negeri Kami

Kami dari #GKIYasmin mengajak semua yang peduli, siapapun, dari suku, agama, keyakinan, latar belakang apapun untuk bertemu di udara melalui “JAM DOA UNTUK BANGSA” pada setiap hari Sabtu Pukul 10 malam WIB (silahkan bagi yang berada di zona waktu lain menyesuaikannya). Tempat berdoa sesuai dengan keberadaan masing-masing. Lama waktu berdoa bisa disesuaikan dengan tatacara doa masing-masing.

* Mari kita naikkan doa bagi semua umat di bumi Indonesia yang saat ini masih terpasung dalam menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.

* Mari kita doakan perdamaian di antara warga negara yang berbeda agama dan kepercayaannya sehingga dapat saling bahu-membahu membangun negara ini untuk kesejahteraan bersama.

* Mari kita doakan pemerintah dan pihak yang berwenang agar dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secara bijaksana dan adil.

Sampai jumpa di udara melalui doa-doa yang kita naikkan bersama-sama pada setiap Sabtu Pukul 10 malam tepat. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati bangsa dan negara kita. Amin.