Sidang Tilang SIM C, Apa Benar-benar Disidang?

Standard

“Nyatanya sama sekali nggak ada persidangan antara terdakwa di hadapan hakim,” itu jawabnya. Okay mulai saya ceritakan pengalaman kesekian kali saya ditilang dan berhadapan dengan mejahijau.

Kamis, 28 Juli 2011 saya distop oleh polisi muda di jalan menuju Kebon Sirih, prapatan Gedung Bank Indonesia. Alasannya karena saya tidak menyalakan lampu motor. Yah memang dilihat dari undang-undang saya salah, tapi sampai saat ini saya masih belum habis pikir kenapa siang hari motor diharuskan menyalakan lampu? Yang saya dengar supaya terlihat lebih jelas oleh kendaraan mobil dari belakang dan lain-lain. Yah sudahlah memang saya apes…

SIM saya pun ditahan, tanpa banyak ngomong, saya serahkan semua. Karena saat itu memang saya tengah buru-buru menuju kantor di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Kertas merah pun diberikan, dan saya dijadwalkan sidang Jumat, 5 Agustus 2011.

Awalnya saya kesal dan ingin mengambil jalur cepat dengan meminta bantuan dari beberapa kawan yang mempunyai akses ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya. Tapi berberapa hari, saya berubah pikiran. “Ehm…. Bagaimana yah rasanya disidang di Pengadilan Negeri Ibukota?”

Sebelumnya saya juga pernah menjalankan sidang di Pengadilan Negeri Tangerang karena permasalahan yang sama. Saat itu proses sidang, daftar di meja registrasi ruang sidang (berada di sayap kanan PN), lalu tunggu panggilan dengan menyebutkan nomor, dan sidang pun berlangsung. Saya dibacakan dakwaannya, setelah itu dianggap bersalah, dan membayar denda Rp 40 ribu. Proses sidang tidak sampai 3 menit. Setelah itu bayar di loket yang berada pas di depan ruang sidang. Setelah membayar (tanpa ada kuitansi), SIM pun kembali.

Nah bagaimana di PN Jakarta Pusat?

Jumat agak siang jam 9 saya sampai ke PN Jakarta Pusat, di Jalan Gajah Mada. Tengok kanan kiri, ampun banyak calo yang menawarkan jasa ambil SIM tilang itu. Jika mau, saya harus bayar Rp 100 ribu. Ehm, mahal yah? Untuk yang belum habis baca cerita saya ini, mungkin akan menggunakan jasa calo untuk ambil SIM tilang.

Tawaran calo itu saya tolak, lalu informasi dari tukang parkir (saya lumayan akrab) ruang sidang SIM tilang ada di lantai 3. Naik tanggalah saya dengan bekemeja putih karena masuk pengadilan saat ini harus berkemeja dan sepatu.

Memasuki lorong lantai 3 ada petunjuk, “sidang SIM A dan STNK di lantai 2. Sidang SIM C di lantai 3″. Asal Anda tahu, sepanjang masuk ke pengadilan, tidak ada sama sekali petunjuk di mana ruang sidang SIM tilang. Anda pun harus bertanya kepada seseorang di luar, dan Anda tanyai besar kemungkinan calo. Maklum, susah membadakan calo SIM tilang dan petugas pengadilan di sana.

Okay kembali ke saat saya masuk lorong lantai 3 tempat sidang SIM. Hal pertama yang saya lakukan adalah dengan mendaftar dan mengambil nomor urut. Daftarnya di ruang sebelah kiri saat masuk ke lorong lantai 3 PN Jakarta Pusat. Nah, tempat Anda mengambil nomor adalah ruang pengambilan surat tilang biru. Surat tilang biru itu berarti Anda tidak perlu sidang karena Anda mengaku bersalah dan harus membayar senyumlah uang dengan denda maksimal. Pembayaran itu seharusnya melewati rekening BRI.
Tapi memang Indonesia, pembayaran dilakukan di ruang itu juga, besarannya rata Rp 75 ribu untuk semua kesalahan baik nggak punya SIM, atau langgar lampu merah dan lain-lain. Yang penting SIM Anda saat itu ditahan.
Suasana saat itu tidak terlalu ramai, saya saja mendapat nomor yang kecil. saya berikanlah surat merah saya itu. Ups…. Saya sempat terkecoh. Saya kira pengambilan SIM saya dilakukan di ruangan itu, rupanya surat tilang merah itu berbeda. Saya harus menjalani sidang.

Tanya-tanya, ruang sidangnya di sebelah kanan saat Anda masuk lorong lantai 3 PN Jakarta Pusat. Masuklah saya di ruang sidang yang sepi itu.

Daaannn…. Apa yang terjadi? Saya dikejutkan dengan apa yang saya lihat. Ternyata tidak ada siang sama sekali. Nama-nama si ‘terdakwa’ yang (seharusnya menjalani) sidang hanya dipanggil oleh seorang pria yang berdiri di meja hakim. Saat itu memang ada hakim, tapi si hakim yang pakai baju lengkap khas hakim hanya ngobrol-ngobrol saja oleh seorang di sebelahnya. Sepertinya itu penitera pengganti. Sama sekali tidak ada sidang yang lazimnya di terdakwa berhadapan dengan hakim, dan si hakim tanya-tanya dan membacakan tuntutan, lalu vonis, dan membacakan denda.

Ini benar-benar tak ada. Jadi hakim duduk di depan meja sidang cuma formalitas saja (dalam pikiran saya sih itu bukan hakim).
Nama saya pun dipanggil, dan saya ditunjukkan untuk menuju ke ruang sebelahnya (sama ruang sidang juga) untuk membayar denda. Besarannya sama semua rata Rp 50 ribu. Seharusnya pembayaran ini lewat bank BRI, tapi ini langsung seperti Anda membeli kerupuk. Dan SIM saya pun kembali.

Dari semua cerita saya itu bisa disimpulkan, jika Anda ditilang, mending jangan damai dengan polisi (saya senang menyebutnya BABI) karena denda yang Anda bayarkan tidak terlalu membengkak saat di pengadilan. Karena semua dipukul rata dengan kesalahan apapun, Rp 50 ribu buat surat tilang merah, dan Rp 75 ribu buat surat tilang biru. Dan pastinya saat ditilang Anda bisa meminta ingin merah atau biru. Semua proses sama, saya sarankan minta yang merah karena biaya lebih murah.

Daripada Anda menyogok si polisi, entah buat apa uang itu digunakan oleh si polisi itu. Tapi memang sih ketika denda itu dibayarkan ke pengadilan, tidak ada jaminan uang itu lari ke rekening negara, bisa saja lari ke kantong aparatur negara yang korup. Kalau saya, tidak akan pernah ikhlas jika uang itu lari ke kantong pribadi, saya sumpahin 7 turunan tidak berkah dan halal makannya.

Kedua, jangan memakai jasa calo, karena proses pengambilan SIM di atas tidak rumit kan? Saya hanya butuh waktu 15 menit untuk mengambil SIM saya kembali, tentunya dengan jalur resmi lewat pengadilan tanpa memberi suap kepada BABI (karena perut buncit itu lho).

Semoga cerita saya ini bisa memberikan gambaran dan memecahkan doktrin kalau persidangan SIM itu menegangkan, nyatanya tidak. Semua ini hanya formalitas semata. Tidak ada sidang, tapi disebut sidang SIM…. Aneh sekali…..

About these ads

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s